Jakarta (Bimas Buddha) — Hari Raya Kathina merupakan salah satu momentum penting dalam kehidupan umat Buddha yang mengandung makna mendalam tentang kemurahan hati, ketulusan, dan kebersamaan. Peringatan ini tidak hanya menjadi kesempatan bagi umat untuk mempersembahkan kebutuhan para bhikkhu, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk menumbuhkan praktik berdana sebagai bagian dari pengamalan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Kathina merupakan hari raya yang diperingati setelah para bhikkhu menyelesaikan masa Vassa, yaitu masa berdiam selama tiga bulan untuk memperdalam praktik Dhamma. Berakhirnya masa Vassa menjadi kesempatan bagi umat untuk menyampaikan ungkapan rasa hormat, terima kasih, dan dukungan kepada Sangha melalui persembahan dana.
Lebih dari sekadar tradisi persembahan, Kathina mengajarkan bahwa berdana merupakan praktik kebajikan yang berangkat dari ketulusan hati. Dalam ajaran Buddha, dana atau kemurahan hati menjadi salah satu landasan penting dalam membangun kualitas batin. Melalui praktik berdana, seseorang belajar mengurangi kemelekatan, mengikis sikap mementingkan diri sendiri, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Semangat Kathina juga mengingatkan bahwa kebajikan tidak selalu diwujudkan melalui pemberian materi dalam jumlah besar. Nilai utama dari sebuah pemberian terletak pada niat yang tulus, kerelaan, dan kebijaksanaan dalam melakukannya. Dalam perayaan Kathina, semangat ini juga tercermin melalui kebersamaan umat dalam mempersiapkan persembahan, mengikuti puja bakti, serta bergotong royong mendukung kegiatan di vihara. Dengan demikian, praktik berdana tidak hanya bermakna dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling membantu, berbagi, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Melalui peringatan Hari Raya Kathina, umat Buddha diajak untuk menjadikan momentum ini sebagai pengingat dalam menumbuhkan ketulusan memberi, memperkuat kepedulian, serta mengembangkan kemurahan hati sebagai bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih bijaksana dan penuh kebajikan.
Pada akhirnya, makna Kathina tidak hanya tercermin dari apa yang dipersembahkan, tetapi juga dari nilai kebajikan yang tumbuh dalam diri setiap umat. Sebab, ketika ketulusan menjadi dasar dalam memberi, setiap tindakan kebajikan dapat menjadi wujud nyata pengamalan Dhamma dalam kehidupan.