Pati (Bimas Buddha) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati melalui Penyuluh Agama Buddha menyerahkan bantuan 500 bibit sayuran kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Rejeki Vihara Swara Dharma, Desa Sentul, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Rabu (13/08/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari realisasi program unggulan IBU BISA (Ibu Buddhis Bertani, Inovatif, Sejahtera, dan Aktif) yang digagas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati melalui Penyuluh Agama Buddha.
Program IBU BISA merupakan salah satu bentuk implementasi Asta Protas Kementerian Agama, khususnya dalam aspek pemberdayaan ekonomi umat. Program ini mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal, penguatan komunitas, serta penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan bercocok tanam, program IBU BISA diharapkan tidak hanya mendukung ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan dan penguatan ekonomi masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama dalam penguatan sumber daya manusia, pengentasan kemiskinan, penguatan ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan.
KWT Sri Rejeki dipilih sebagai pilot project karena sebelumnya telah memiliki kegiatan serupa serta dinilai memiliki semangat kebersamaan, komitmen mengikuti pembinaan, dan potensi lahan yang dapat dikembangkan. Pelaksanaan tahap awal ini diharapkan menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi secara bertahap hingga menjangkau sekitar 250 ibu-ibu Buddhis yang tersebar di berbagai vihara di Kabupaten Pati.
Pada kesempatan tersebut, sebanyak 500 bibit sayuran yang terdiri atas 120 bibit kol, 100 bibit cabai rawit, 180 bibit tomat, dan 100 bibit terong langsung ditanam. Sebagian bibit ditanam dalam polybag dan ditata di halaman vihara, sebagian lainnya ditanam pada lahan pekarangan vihara, sementara sisanya akan dikembangkan di pekarangan rumah masing-masing anggota KWT Sri Rejeki.
Penyuluh Agama Buddha Kabupaten Pati, Taat Handoko, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah awal dari program pemberdayaan yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Apa yang dilaksanakan hari ini baru awal kegiatan. Setiap bibit yang ditanam harus dirawat sehingga dapat memberikan manfaat bagi setiap anggota,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selain pemberian bibit dan penanaman perdana, Penyuluh Agama Buddha juga akan melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan tanaman. Koordinasi dengan Penyuluh Pertanian yang bertugas di wilayah Dusun Sulo juga akan dilakukan untuk mendukung keberhasilan program.
“Program unggulan ini akan menjadi program berkelanjutan yang akan dikembangkan di tempat lain. Selain pemberian bantuan bibit, juga dilaksanakan penanaman perdana sebagai program percontohan,” tambahnya.
Sementara itu, anggota KWT Sri Rejeki, Maryati, menyampaikan apresiasinya atas pendampingan yang diberikan Penyuluh Agama Buddha Kabupaten Pati. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan motivasi bagi anggota untuk memanfaatkan pekarangan rumah maupun lingkungan vihara sebagai lahan produktif.
“Kami merasa senang sekali karena mendapat bimbingan dari penyuluh Kabupaten Pati. Ini dapat menambah motivasi kami untuk menanam sayuran di pekarangan rumah maupun di lingkungan vihara,” ungkap Maryati.

Penyuluh Agama Buddha lainnya, Jumi’ah, berharap program IBU BISA dapat menjadi penggerak pemberdayaan yang dimulai dari lingkungan keluarga dan berkembang ke masyarakat.
“Program IBU BISA merupakan bentuk nyata bagaimana nilai-nilai Buddha Dhamma dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menanam sayuran bukan sekadar bercocok tanam, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan,” tuturnya.
Menurutnya, pemanfaatan halaman rumah dan vihara secara sederhana dapat memberikan manfaat yang lebih luas, mulai dari menyediakan pangan sehat, menghemat pengeluaran keluarga, menghijaukan lingkungan, hingga membuka peluang menjadi sumber penghasilan.
Melalui program IBU BISA, Penyuluh Agama Buddha Kabupaten Pati terus mendorong agar kegiatan keagamaan tidak berhenti pada aspek pembinaan spiritual, tetapi juga hadir dalam upaya membangun kemandirian, kepedulian lingkungan, dan kesejahteraan umat secara nyata.
Narasi: Tim Humas PPABDI dan Dwiyana Mettasari
Dok Foto : Tim Humas PPABDI