Seram (Bimas Buddha) — Perjalanan panjang dan penuh tantangan kembali ditempuh dalam upaya pembinaan umat Buddha di pedalaman Pulau Seram, Maluku. Penyuluh Agama Buddha Provinsi Maluku, Triyo Wibowo, bersama tim dan Bhikkhu Siriratano Mahathera, melakukan perjalanan lintas hutan serta pegunungan untuk menjangkau komunitas umat Buddha yang tinggal di wilayah terpencil.
Misi pembinaan ini dimulai dari perjalanan sejak pukul 04.30 WIT dari Vihara Swarna Giri Tirta menuju Pelabuhan Tulehu. Dituturkan oleh Triyo Wibowo, dari titik tersebut rombongan menyeberang menggunakan kapal cepat menuju Pelabuhan Amahai di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, dengan waktu tempuh sekitar empat jam menyusuri perairan Laut Banda yang bergelombang.
“Setibanya di Amahai, kami melanjutkan perjalanan menuju Terminal Masohi menggunakan angkutan umum. Rombongan kemudian menyewa kendaraan 4x4 untuk menuju Desa Atiahu di Kabupaten Seram Bagian Timur. Tantangan mulai terasa ketika jembatan sepanjang dua kilometer putus akibat banjir sehingga kami harus menyusuri jalur sungai untuk melanjutkan perjalanan,” ungkap Triyo pada Kamis (19/3/2026), mengisahkan perjalanan yang telah ditempuhnya.
Selanjutnya, dari Atiahu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menggunakan truk perusahaan menuju rumah singgah di kawasan Pohon Kelapa. Perjalanan menembus hutan selama satu jam tersebut dilakukan dalam kondisi gelap disertai hujan deras.
Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pemukiman suku Alifuru di Gunung Von. Jalur setapak yang nyaris tertutup rimba membuat tim harus berjalan selama 8 hingga 12 jam melintasi luapan sungai, jurang terjal, serta medan berbatu licin.
Kendati beberapa kali terjatuh dan mengalami cedera ringan, rombongan akhirnya tiba sekitar pukul 18.30 WIT dan disambut melalui tradisi sirih pinang sebagai tanda diterima secara adat oleh para tetua setempat.
Selama dua hari berada di Gunung Von, penyuluh melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan, mulai dari puja bakti bersama umat, penguatan dasar-dasar ajaran Buddha, pelayanan kesehatan sederhana, hingga pelatihan membaca, menulis, berhitung, serta keterampilan hidup bagi masyarakat setempat.
Selain itu, Triyo Wibowo bersama tim juga mengunjungi para-para, tempat penyemayaman leluhur suku setempat, untuk membacakan paritta sekaligus menjelaskan pentingnya merawat dan menghormati leluhur, dilanjutkan dengan pembagian paket sembako kepada warga.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Gunung Yamatitam dan Gunung Payung dengan medan yang semakin berat, bahkan harus berjalan hingga 18 jam melewati hutan lebat di tengah guyuran hujan.
“Di Yamatitam, puja bakti dilaksanakan di Vihara Velugiri Yamatitam, vihara pertama di pedalaman Pulau Seram. Selain melakukan pembinaan keagamaan, kami juga berdiskusi dengan tetua adat, mengajarkan keterampilan bercocok tanam, serta menyerahkan bantuan alat-alat pertanian hasil swadaya,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan juga dilakukan di Vihara Buddha Sasana Bangoi serta pemantauan pembangunan Taman Buddha Jaya Giri Arama di Desa Namto. Setelah seluruh kegiatan selesai, rombongan kembali ke Ambon dengan perjalanan sekitar 16 jam melintasi kawasan hutan lindung Manusela.
Perjalanan ini menjadi bukti nyata pengabdian penyuluh dalam menjangkau umat Buddha di wilayah terpencil, sekaligus menjaga agar nilai-nilai Dhamma tetap hidup di pelosok negeri.