Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Hening Nusantara, Menag Ajak Umat Menata Pikiran dan Mendengarkan Suara Batin

Kamis, 21 Mei 2026
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) ----- Lebih dari 3.000 umat Buddha dari seluruh Indonesia mengikuti acara Hening Nusantara secara serentak di 34 provinsi di Indonesia melalui mekanisme hybrid, baik daring maupun luring, dengan pusat kegiatan nasional bertempat di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Menjadi bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 B.E. dalam peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E.

Menteri Agama Nasaruddin Umar melalui vodio tapping menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, panitia penyelenggara, dan seluruh peserta kegiatan “Hening Nusantara Serentak Seluruh Indonesia” yang merupakan bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 Buddhist Era dalam peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak tahun 2026.

Menurut Menag hening bukan sekadar diam. Dalam keheningan, manusia belajar untuk mendengarkan suara batin, menata pikiran, serta merawat kebijaksanaan dan kasih sayang di tengah bising kehidupan.

“Saya memandang kegiatan ini sebagai ikhtiar spiritual dan sosial yang sangat baik dalam memperkuat nilai toleransi, moderasi, persaudaraan, dan harmoni kebangsaan. Ketika umat Buddha di 34 provinsi melaksanakan hening secara serentak, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya ketenangan pribadi, tetapi juga energi kedamaian untuk Indonesia,” sebutnya.

Nasaruddin Umar menyebut bahwa bangsa kita membutuhkan lebih banyak ruang refleksi, lebih banyak keteduhan, dan lebih banyak kebijaksanaan. Sebab perdamaian dunia selalu dimulai dari ketenangan dalam diri manusia. Dari batin yang tenang, lahir sikap bijak. Dari sikap bijak, lahir kehidupan yang damai.

“Kepada seluruh peserta Hening Nusantara Serentak Seluruh Indonesia, saya mengajak untuk menjadikan momentum Waisak ini sebagai sarana memperkuat cinta kasih, memperluas kepedulian sosial, serta mempererat persatuan dalam keberagaman,” harapanya.

Sementara Dirjen Bimas Buddha Supriyadi mengatakan, acara ini diselenggarakan sebagai upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat melalui praktik hening, refleksi, dan penguatan nilai-nilai kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Berangkat dari dinamika kehidupan modern yang semakin cepat dan penuh tantangan kegiatan ini menghadirkan ruang bersama bagi masyarakat untuk sejenak berhenti dari berbagai aktivitas, menenangkan batin, serta membangun kesadaran diri melalui praktik hening. Praktik tersebut tidak hanya memiliki makna spiritual dalam ajaran Buddha, tetapi juga mengandung nilai universal yang relevan bagi kehidupan masyarakat secara luas,” kata Dirjen

Melalui pendekatan reflektif dan partisipatif, lanjut Supriyadi kegiatan ini dirancang sebagai gerakan nasional yang melibatkan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia untuk bersama-sama menumbuhkan nilai kesadaran, kebijaksanaan, toleransi, dan kasih sayang sebagai fondasi kehidupan yang harmonis.


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait