Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Dari Pelatihan Pabbajja Menuju Perubahan : Cerita Abhijata Menemukan Disiplin, Keyakinan, dan Kepedulian

Jumat, 21 Agustus 2026
Kategori : Berita

Blitar (Bimas Buddha) — Perubahan tidak selalu hadir melalui nasihat yang panjang. Kadang, pengalaman menjalani sebuah proses justru meninggalkan jejak yang lebih dalam. Hal itulah yang dirasakan Abhijata Sahadhammikho, 12 tahun, siswa kelas VI SD Sidomulyo 2, berasal dari Dusun Sidorejo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, setelah mengikuti Kegiatan Pabbajja Samanera dalam rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) & Asalha Mahapuja 2570/2026.

Bagi orang tuanya, Sihanik Budiwati, perubahan Abhijata terlihat dalam keseharian. “Anak saya yang sebelumnya kerap keluar saat puja bakti, kini mampu mengikuti kegiatan tersebut dengan lebih baik. Ia juga mulai terbiasa bangun pagi, tidak lagi sering bepergian tanpa tujuan, serta menunjukkan ketertarikan untuk bermeditasi. Perubahan itu tidak berhenti pada kegiatan keagamaan. Di rumah, Abhijata mulai menunjukkan kepedulian melalui hal-hal sederhana, seperti mau membantu orangtua menyapu. Saat bermeditasi pun, ia mampu duduk lebih lama dan tenang. Pengalaman mengikuti Pabbajja juga tampaknya meninggalkan kesan mendalam. Bahkan, Abhijata telah menyampaikan keinginannya untuk kembali mengikuti Pabbajja pada tahun depan di Vihara Lasem bersama temannya dari Jepara,” ujar Sihanik pada Jumat (21/08/2026).

Perubahan serupa juga dirasakan oleh guru Pendidikan Agama Buddha, Darwanto, yang sehari-hari melihat perkembangan Abhijata di lingkungan sekolah. Menurutnya, sebelum mengikuti Pabbajja dan ITC, Abhijata terkadang masih bersikap kurang peduli terhadap lingkungan maupun teman. Ketika diminta memimpin puja bakti, ia juga beberapa kali menolak atau menyerahkan tugas tersebut kepada siswa lain. Namun, setelah mengikuti kegiatan tersebut, perubahan mulai tampak cukup jelas. Abhijata menjadi lebih disiplin. Ia datang ke sekolah lebih awal dan tampil lebih rapi. Pengendalian emosinya pun dinilai semakin baik. Kepeduliannya terhadap sesama tidak lagi terbatas pada teman sekelas, tetapi meluas kepada lingkungan sekolah. Sikapnya terhadap guru dan teman juga berubah. Ia menjadi lebih sopan dan mulai terbiasa mengambil inisiatif. Ketika ada kegiatan, Abhijata tidak lagi selalu menunggu perintah untuk bergerak.

“Dengan Pabbajja ini, Abhi lebih tenang dalam pembawaan dan perilakunya, perubahan tersebut juga terlihat dalam kepeduliannya terhadap lingkungan. Tanpa harus diminta, Abhijata mulai berinisiatif membersihkan lingkungan sekolah. Ia perlahan tumbuh menjadi siswa yang berani memberi teladan bagi sesama siswa Buddhis sekaligus menumbuhkan semangat bagi adik-adik kelasnya.” ungkap Darwanto dalam testimoninya.

Dampak positif juga dirasakan dalam proses pembelajaran. Darwanto menilai Abhijata kini lebih memperhatikan pelajaran dan lebih mudah berkonsentrasi di kelas. Pengalaman spiritual selama Pabbajja turut membentuk keberaniannya dalam menjalankan praktik Dhamma. Jika sebelumnya ia belum pernah menjalankan latihan Atthasila dan masih merasa takut, terutama ketika harus menghadapi rasa lapar, pengalaman selama mengikuti Pabbajja memberinya pemahaman baru. Setelah merasakan sendiri proses dan manfaatnya, Abhijata menjadi lebih bersemangat, tenang, serta tidak mudah terburu-buru.

Cerita Abhijata menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan tidak hanya berhenti pada pemahaman ajaran. Ketika nilai-nilai yang dipelajari diberi ruang untuk dipraktikkan, perubahan dapat hadir dalam sikap sehari-hari. Kegiatan Pabbajja Samanera, menjadi salah satu ruang pembelajaran yang memberi pengalaman langsung bagi siswa untuk melatih kedisiplinan, pengendalian diri, kepedulian, konsentrasi, serta penghayatan terhadap praktik kehidupan beragama.

Bagi Abhijata, pengalaman tersebut telah menjadi awal dari perubahan. Dari anak yang semula masih enggan memimpin puja bakti, ia kini mulai berani mengambil peran. Dari yang kurang peduli terhadap lingkungan, ia mulai bergerak tanpa harus diminta. Dan dari latihan sederhana yang dijalani selama Pabbajja, tumbuh ketenangan yang perlahan terbawa ke rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulannya.

Perubahan pada diri seorang anak memang tidak terjadi dalam satu hari. Namun, ketika pembinaan keagamaan mampu menyentuh pengalaman dan kehidupan sehari-hari, benih-benih kebajikan dapat tumbuh menjadi karakter. Cerita Abhijata menjadi salah satu contoh bahwa kegiatan Pabbajja dan pembinaan keagamaan Buddhis dapat menghadirkan dampak nyata, memperkuat keyakinan (saddha), membentuk perilaku positif, dan menumbuhkan generasi muda Buddhis yang lebih disiplin, peduli, serta berani menjadi teladan.


Sumber
:
Humas Bimas Buddha
Penulis
:
Vikka Setiawati AP
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait