Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

PKUB dan Bimas Buddha Perkuat Deteksi Dini Kerukunan melalui EWS SI-RUKUN

Rabu, 07 Oktober 2026
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) — Kementerian Agama terus memperkuat upaya preventif dalam menjaga kerukunan umat beragama. Salah satunya melalui Early Warning System (EWS) SI-RUKUN, sistem yang dikembangkan untuk membantu mendeteksi potensi persoalan kerukunan sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih dini.

Upaya tersebut diperkuat melalui sinergi antara Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha dalam mengenalkan Early Warning System (EWS) SI-RUKUN. Pengenalan sistem tersebut dilakukan langsung oleh Kepala PKUB Kementerian Agama bersama tim pada Selasa (6/10/2026) dan diterima oleh Sekretaris Ditjen Bimas Buddha bersama jajaran.

Sekretaris Ditjen Bimas Buddha, Triroso, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB). Menurutnya pemahaman mengenai EWS penting agar jajaran Bimas Buddha dapat mengetahui peran yang dapat dilakukan dalam mendukung deteksi dini kerukunan.

“Kalau baru berpotensi sudah kita mapping, maka kita sudah tahu apa yang harus kita laksanakan dan harus kita antisipasi sehingga nanti tidak akan terjadi,” sebut Triroso.

Ia menilai dinamika dalam masyarakat yang beragam merupakan hal yang wajar. Namun, dinamika tersebut perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi persoalan yang mengganggu persatuan dan kehidupan sosial masyarakat.

Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agma Muhammad Adib Abdushomad menjelaskan, EWS SI-RUKUN merupakan bagian dari TEKAD SI-RUKUN (Transformasi Ekosistem Kolaboratif Digital untuk Penguatan Kerukunan Umat Beragama). Sistem ini menjadi bagian dari perubahan pendekatan Kementerian Agama dalam menjaga kerukunan, dari yang sebelumnya lebih reaktif menjadi preventif.

“Kalau dulu sudah ada kejadian baru kita respons, sekarang pendekatannya preventif. Early Warning System ini adalah mendeteksi kemudian mencegah sesuatu yang lead to conflict,” jelas Adib.

Menurutnya keberhasilan EWS tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada informasi yang masuk ke dalam sistem. Karena itu, penguatan ekosistem inputer menjadi hal penting, termasuk melibatkan penyuluh agama Buddha.

“Walaupun aplikasinya sehebat apa pun, kalau tidak ada masukan informasi, it's very nonsense,” ujarnya.

Melalui penyuluh agama yang berada dekat dengan umat dan masyarakat, informasi mengenai dinamika kerukunan dapat menjadi bagian dari pemetaan potensi persoalan. PKUB juga menyampaikan rencana pemberian akses EWS kepada pejabat Eselon I dan II untuk memperkuat pemanfaatan sistem di lingkungan Kementerian Agama.

Dengan pelaksanaan sosialisasi dan sinergi PKUB dan Ditjen Bimas Buddha, EWS SI-RUKUN diharapkan tidak berhenti sebagai sistem digital, tetapi menjadi bagian dari kerja bersama dalam membaca potensi, melakukan pencegahan, dan merawat kerukunan sejak dini.


Sumber
:
Humas Bimas Buddha
Penulis
:
Dwiyana Mettasari
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait