Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Pesan Tokoh Umat Buddha di Sannipata Nusantara 2026: Dharma sebagai Kunci Perdamaian Dunia

Sabtu, 20 Juni 2026
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) — Semangat persaudaraan dan komitmen untuk merawat perdamaian dunia kembali mengemuka dalam penyelenggaraan Sannipata Nusantara 2026, puncak rangkaian kegiatan Vesakha Sananda 2570 B.E., yang digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta, Kamis (19/6/2026).

Mengusung tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan berbagai unsur umat Buddha, pemerintah, akademisi, serta tokoh agama Buddha. Tidak sekadar seremonial, forum ini juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Dharma terus hidup sebagai dasar dalam memperkuat persatuan dan membangun kehidupan yang damai.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Menteri Agama RI, Ketua Komisi XII dan Anggota Komisi VIII DPR RI, pejabat eselon I dan II Kementerian Agama, staf khusus, staf ahli, tenaga ahli, serta jajaran Kementerian Agama. Turut hadir pula Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama, pimpinan organisasi keagamaan Buddha tingkat pusat dan daerah, pimpinan perguruan tinggi keagamaan Buddha, unsur TNI dan Polri, ASN lintas kementerian dan lembaga, serta para Pembimbing Masyarakat Buddha dan Kasi/Penyelenggara Buddha dari seluruh Indonesia, termasuk yang mengikuti secara daring.

Di tengah suasana yang hangat dan penuh kebersamaan, panggung Sannipata Nusantara menjadi ruang penyampaian gagasan dan pesan kedamaian dari para tokoh umat Buddha.

Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI), Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja, menilai bahwa tema tahun ini bukan sekadar slogan, melainkan ajakan nyata untuk berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia melalui sikap dan tindakan sehari-hari. Ia menegaskan pentingnya relevansi Dharma di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

"Di era globalisasi, digitalisasi, dan teknologi yang berkembang dengan pesat ini, tema Dharma Menjaga Perdamaian Dunia menjadi sangat relevan bahwa setiap gerak kita, setiap upaya kita, menjadi bagian yang tidak terlepaskan dan penting untuk berkontribusi bagi apa pun yang ada di dunia ini, termasuk perdamaian." ujarnya.

Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

"Kita bisa menyampaikan bagaimana kita berjuang, bagaimana kita menjaga perilaku, ucapan, dan sikap untuk memelihara kerukunan yang kita bangun bersama-sama. Kita berjuang, kita menjaga perilaku, ucapan, sikap, dan sebagainya untuk memelihara kerukunan, yang kita bangun bersama-sama, yang kita inginkan semua energi di bangsa ini disumitkan, dikristalkan, untuk membuat bangsa ini makin sejahtera.” Tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Yang Mulia Bhikkhu Kamsai Sumano Mahathera, menekankan bahwa Dharma harus menjadi dasar yang hidup dalam diri setiap individu, bukan sekadar nilai yang dipahami secara konseptual. Ia mengibaratkan Dharma sebagai pelindung yang menuntun kesadaran manusia dalam bertindak.

"Dharma adalah payung dalam hati kita. Kalau hati kita baik, ucapan kita pasti baik. Kalau hati kita baik, perbuatan kita juga pasti baik. Karena itu, Dharma harus menjadi payung sebelum hujan, sebelum muncul pikiran, ucapan, dan perbuatan yang tidak baik." pesannya.

Menurutnya, perdamaian dunia tidak dapat dilepaskan dari kedamaian batin setiap individu. Ketika pikiran, ucapan, dan perbuatan dijaga dengan baik, maka harmoni akan tercipta secara alami di lingkungan sekitar.

Sannipata Nusantara sendiri tidak hanya menjadi penutup rangkaian perayaan Waisak. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang penguatan komitmen bersama dalam mempererat persaudaraan, memperkuat kolaborasi lintas lembaga, dan menjaga harmoni di tengah tantangan global yang terus berkembang.

Di akhir rangkaian kegiatan, semangat Dharma kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam membangun kehidupan yang damai, rukun, dan saling menghormati. Melalui Sannipata Nusantara 2026, umat Buddha Indonesia kembali menunjukkan perannya dalam merawat kerukunan bangsa. Nilai cinta kasih, welas asih, dan penghormatan terhadap sesama diharapkan terus menjadi kontribusi nyata bagi Indonesia yang damai dan dunia yang lebih harmonis.

 

Kontributor: Vikka Setiawati Anatha Pindika

 


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait