Magelang (Bimas Buddha) — Perayaan Asalha Mahapuja 2570 BE menjadi momentum bagi umat Buddha untuk tidak hanya mengenang pembabaran Dhamma pertama oleh Sang Buddha, tetapi juga merefleksikan bagaimana ajaran tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam dhammadesananya, Y.M. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera mengajak umat untuk memahami bahwa penderitaan tidak dapat diselesaikan hanya dengan keinginan. Menurutnya, setiap penderitaan memiliki sebab dan untuk mengakhirinya, sebab tersebut perlu dipahami serta diatasi.
“Jangan menutupi masalah-masalah yang Anda alami hanya dengan menyelesaikan gejalanya, tidak melihat sebabnya. Keinginan tidak menyelesaikan masalah, tetapi Anda harus berjuang dengan keuletan, kesabaran terus menerus untuk menyelesaikan sebab penderitaan, ” ujar Y.M. Bhikkhu Sri Paññavaro saat menyampaikan dhammadesana pada Perayaan Asaha Mahapuja 2570 BE di Candi Borobudur, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, Sang Buddha tidak menggunakan istilah kebahagiaan sebagai tujuan akhir karena kebahagiaan yang dialami manusia bersifat tidak kekal. Kebahagiaan dapat berubah dan berakhir ketika kondisi yang mendukungnya berubah. Karena itu, menurutnya, tujuan ajaran Buddha bukan sekadar mencari kebahagiaan yang bersifat sementara, melainkan memahami dan melenyapkan sebab-sebab penderitaan.
Lebih lanjut, Y.M Bhikkhu Sri Paññavaro menguraikan relevansi Anattalakkhana Sutta dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa jasmani, perasaan, pikiran, dan kesadaran terus berubah serta tidak sepenuhnya dapat dikendalikan sesuai keinginan manusia.
Karena itu, seseorang tidak dapat selalu memaksakan segala sesuatu sesuai kehendaknya. Sikap “pokoké”—yang berarti memaksakan sesuatu harus terjadi sesuai keinginan—justru dapat menjadi sumber konflik, kebencian, ketidakadilan, dan penderitaan.
“Kalau saudara memegang ‘pokok'e' nanti akan timbul kejahatan, timbul kebencian. Anda tidak bisa melihat faktor lain yang mendukung,” jelasnya.
Menurutnya, kehidupan yang lebih baik perlu dibangun dengan memahami kondisi dan sebab dari setiap persoalan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui praktik Dhamma, antara lain dengan tidak berbuat jahat, memegang sila, menjaga kejujuran serta menyediakan waktu untuk menenangkan pikiran melalui meditasi.
“Kalau umat Buddha tidak pernah meditasi, tidak lengkap,” ujarnya. Meditasi, lanjutnya, membantu seseorang menenangkan pikiran sehingga dapat melihat persoalan dengan lebih jernih dan tidak terburu-buru memaksakan kehendak.
Melalui ceramah tersebut, umat diajak membawa pulang satu refleksi penting dari perayaan Asalha Mahapuja meninggalkan sikap “pokoké” dan mulai memahami bahwa setiap tujuan membutuhkan sebab, kondisi dan proses yang mendukung.
Dengan demikian, peringatan Asalha Mahapuja tidak berhenti pada pengenangan sejarah pembabaran Dhamma, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan ajaran Buddha dalam kehidupan nyata dengan lebih jujur, tenang, bijaksana, dan terbuka terhadap berbagai kondisi.
Kontributor:
Dwiyana Mettasari