Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Praktik Toleransi di Hari Idul Fitri

Sabtu, 22 April 2023
Kategori : Berita

Temanggung (Bimas Buddha) --------- Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1444 H/ 2023 M jatuh pada tanggal 22 April 2023 berdasarkan keputusan sidang isbat yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 20/4/2023 di Kantor Kementerian Agama, Jl. M.H. Thamrin No.6 Jakarta Pusat.

Berdasarkan keputusan tersebut menurut pemerintah salat Idulfitri secara bersamaan tanggal 22 April 2023 yang dilakukan serentak secara nasional.

Di ujung wilayah Kabupaten Temanggung tepatnya Dusun Krajan Desa Kalimanggis umat muslim juga melaksanakan salat id menyambut hari Raya Idul Fitri dengan penuh suka cita.

Tepat pukul 07.00 WIB umat muslim mulai memadati Masjid Almuhajirin untuk melaksanakan ibadah salat Idulfitri. Kurang lebih 40 menit ibadah salat selesai umatpun secara berlahan mulai keluar dari ruang utama masjid sambil bersalam-salaman.

Disela kerumunan umat selesai melaksanakan salat id,  tampak tokoh agama Buddha Bhante Thitasaddho secara langsung mengucapkan selamat Idul Fitri kepada semua jemaah yang melakukan salat Idulfitri di depan Masjid yang memang jarak antara Masjid dengan Wisma Bhikku Jaya Wijaya tidak terlalu jauh kurang lebih 500 M.

“Selamat merayakan Idul Fitri Bapak dan Ibu, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Semoga kita semua senantiasa bahagia bersama keluarga” ucap Bhante.

Dengan penuh senyum dan bahagia semua jemaah tampak menerima ucapan selamat dari Bhante Thitasaddho.

Ariyanto menuturkan bahwa salat id tahun ini sesuai arahan pemerintah tanggal 22 April 2023.

“Pelaksanaan salat Idulfitri tahun ini kita tetap sesuai anjuran dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama,” sebutnya.

Sekretaris Desa Kalimanggis, Luwih saat mendampingi Bhante Thitasaddho Masjid Almuhajirin menjelaskan, kita sudah biasa mengucapkan selamat kepada saudara kita yang merayakan Idul Fitri.

“Di Dusun Krajan Desa Kalimanggis ini 97 % beragama Buddha, 2,5 % beragama Islam dan 0,1 % beragama Kristen dan Katolik,” sebutnya

Bahkan di Dusun Krajan lanjut Luwih ini walaupun sebagian besar beragama Buddha tetapi, warga sudah menyiapkan makanan komplit di meja ruang tamu dan bahkan menyediakan ketupat atau makan komplit dengan lauk pauk lengkap.

“Disini warga tetap menyiapkan makanan dan menerima tamu dari saudara atau kerabat yang beragama muslim dan saling memaafkan dari non muslim juga berkunjung untuk memeriahkan momen Idul Fitri untuk bersilaturohmi, sambil sungkem kepada kerabat yang lebih tua (sepuh),” terangnya.

Luwih menambahkan kalau silaturohmi atau anjang sana Idul Fitri seperti ini sudah ada sejak dulu dan memang terus dilestarikan untuk menjaga kebersamaan antar keluarga walaupun beda agama.

 

 

 

 

 


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait