Jakarta (Bimas Buddha) — Peningkatan kualifikasi pendidik menjadi prioritas utama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas Buddha) untuk memastikan penyelenggaraan Pendidikan Keagaman Buddha yang efektif, relevan, dan berstandar nasional.
Pada Kamis (16/4/2026), Ditjen Bimas Buddha menggelar pertemuan dengan Rektor Institut Nalanda dan Lembaga Dana Paramita untuk membahas percepatan pemenuhan persyaratan kualifikasi linier bagi guru Nava Dhammasekha.
Dalam pertemuan tersebut dibahas strategi peningkatan kualifikasi yang memungkinkan tenaga pendidik mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi serta nilai-nilai luhur ajaran Buddha.
Supriyadi menegaskan pentingnya pemenuhan standar nasional pendidikan pada setiap jenjang, sehingga setiap guru memiliki kualifikasi pendidik yang sesuai.
“Karena kita bicara masalah pendidikan maka ada pemenuhan yang namanya standar nasional pendidikan. Dan setiap level punya ketentuan-ketentuan yang harus kita patuhi. Setiap guru harus punya kualifikasi pendidik yang sesuai,” ujarnya.
Supriyadi juga menekankan bahwa kerja sama dengan Institut Nalanda bersifat akademis dan non-komersial. Ia memastikan tidak ada kepentingan pribadi atau upaya pengambilan keuntungan dalam kolaborasi ini, niat utama adalah membangun ekosistem pendidikan yang adil, transparan, dan berkelanjutan untuk kemajuan umat Buddha di Indonesia.
“Kami di Bimas Buddha tidak ada indikasi apapun, tidak ada niat apapun mengambil keuntungan dari program ini. Niat kami tulus,” tegasnya.
Budi Sulistiyo, Kepala Subdirektorat Pendidikan Dasar dan Menengah mengajak partisipasi Lembaga Dana Paramita dan membuka kesempatan seluasnya untuk mewujudkan perkuliahan para guru nava Dhammasekha pada tahun ajaran mendatang. Dilaporkannya, saat ini tercatat sebanyak 46 Nava Dhammasekha yang beroperasi. Menurutnya, seiring berkembangnya waktu maka menjadi penting untuk mempersiapkan guru-guru pengajar supaya memiliki kualifikasi yang linier.
Rektor Nalanda, Sutrisno, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut bukan hanya sekadar diskusi, namun merupakan bentuk sinergi untuk menyelesaikan permasalahan utamanya yaitu sumber daya manusia (guru) serta tentang pemikiran berkelanjutan masa depan anak usia dini.
“Sebenarnya ini adalah sinergi yang baik, saya lihat untuk menyelesaikan dua perkara besar. Yaitu perkara soal sumber daya manusia di guru. Kemudian yang kedua berkaitan dengan pemikiran berkelanjutan masa depan tentang anak-anak kita terutama di usia dini,” ujarnya.
“Sehingga betul Pak Dirjen, karena ini sinergi, saya melihat masing-masing bagian punya peran. Saya kira peran ini sudah dijalankan selama ini secara parsial, mandiri, dan penuh totalitas. Bagi penyelenggara Dhammasekha juga sudah berjuang dengan dinamikanya sendiri, bagi bapak ibu di lembaga dana juga demikian, yang di perguran tinggi, juga leading sector di pemerintah sudah melakukan upayanya,” sambungnya.
Selain pembahasan akademik, rapat membahas langkah-langkah untuk meningkatkan kesejahteraan guru sebagai bagian dari upaya meningkatkan motivasi dan kualitas pengajaran. Diskusi juga menyentuh pengembangan skema pembiayaan berkelanjutan untuk mendukung pekuliahan bagu para guru Nava Dhammasekha pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Buddha, termasuk mendorong keterlibatan lembaga dana paramita untuk memperkuat dukungan pembiayaan dan keberlanjutan program.
Kontributor: Vividha Jati Ariyagotami