Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Perayaan Waisak di Dusun Lamuk, Merajut Perdamaian dan Kebersamaan di Tengah Perbedaan

Rabu, 10 Juni 2026
Kategori : Berita

Temanggung (Bimas Buddha) ----- Semarak dan sukacita perayaan Waisak 2570 B.E. telah dirasakan oleh umat Buddha di berbagai daerah. Tidak terkecuali, umat Buddha di Dusun Lamuk, Kelurahan Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Setelah selama kurun waktu sebulan penuh melaksanakan pendalaman dan internalisasi Dharma jelang Waisak, mereka bersama-sama berbagi sukacita melalui anjangsana dari rumah ke rumah.

Di Lamuk, umat Buddha di bawah binaan Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia, saling mengunjungi rumah-rumah warga untuk berbagi sukacita Waisak, berkunjung ke altar, menyampaikan ucapan kebahagiaan, serta mempererat hubungan antarumat beragama.

Mereka melakukan anjangsana dan sungkem-sungkeman. Tidak hanya sesama umat Buddha, kunjungan juga dilakukan ke rumah tokoh agama dan warga dari berbagai latar belakang keyakinan, seperti yang tampak pada Jumat (5/6/26).

Suasana akrab dan penuh kekeluargaan mewarnai setiap pertemuan, mencerminkan nilai toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Jiangshi Suyamto, tokoh pandita di Vihara Vajra Bumi Satya Dharma Virya, menuturkan bahwa hal yang sudah menjadi tradisi ini dilakukan tidak hanya oleh umat Buddha.

“Anjangsana atau sungkem-sungkeman ini bukan hanya umat Buddha saja, namun berbagai umat dari lintas iman. Mereka pada antusias seperti halnya waktu di hari besar lainnya, kami dari komunitas Buddha juga ikut merayakannya dan juga melakukan anjangsana,” tuturnya.

“Di situ ada yang sungkem, tanda bakti dari seorang muda kepada yang tua. Tapi ada yang maaf-maafan. Secara harafiah, kita ambil hikmahnya saja, di saat orang mampu mohon maaf, di situlah kedamaian akan terjadi. Di berbagai penjuru dunia, jika itu terjadi maka tidak ada yang namanya perang," sambungnya.

Senada dengan hal tersebut, Suparman, tokoh sesepuh agama Buddha di Dusun Lamuk, menuturkan bahwa selama ini kerukunan antarumat beragama telah terjalin dengan baik. Dicontohkannya, ketika menjelang perayaan Waisak pemuda-pemudi dan umat Kristen juga turut membantu. Sebaliknya, ketika Natal, umat Buddha juga turut membantu persiapan di gereja.

Ester Yuniyati, salah satu umat Kristen di Dusun Lamuk, dengan rona bahagia ia mengucapkan selamat Waisak bagi umat Buddha. Dirinya mengaku senang mengikuti anjangsana ketika Waisak dari tahun ke tahun. Kendati dirinya dan keluarga bukan pemeluk agama Buddha, namun baginya ini adalah bentuk dari toleransi. 

Sebagai informasi, jumlah penduduk Dusun Lamuk yang menganut agama Buddha yakni sebanyak 182 KK, atau 86,26% dari total keseluruhan 211 KK. Jumlah yang dapat dikatakan mayoritas tersebut tidak membuat toleransi menjadi bias, namun malah semakin menguatkan persaudaraan dan kebersamaan.

Kehadiran warga lintas iman yang turut menyambut dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut menunjukkan tingginya semangat kebersamaan di Kabupaten Temanggung. Tradisi anjangsana tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang dialog dan sosial yang memperkuat kerukunan antarumat beragama.

Perayaan Waisak menciptakan ruang refletif akan agungnya Dharma (ajaran Buddha) bagi setiap umat Buddha. Bukan tidak mungkin, dari ruang tersebut akan timbul kedamaian dalam diri dan menyebar ke berbagai penjuru dunia. Demikianlah, Dharma menjadi penjaga perdamaian dunia.


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
A Wardiyanto
Editor
:
A Wardiyanto

Berita Terkait