Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Langkah Cepat Pemasangan Chattra, Ditjen Bimas Buddha Lakukan FGD Tahap Tiga Bersama Pakar

Sabtu, 09 Maret 2024
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) ----------- Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha bersama BRIN mengadakan Focus Group Discussion (FGD) tahap tiga dengan menghadirkan para pakar dari berbagai pusat riset dengan tujuan untuk menyamakan persepsi dan menyusun rencana jadwal kajian dampak di lapangan.

Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi mengatakan bahwa kita akan lanjutkan tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mewujudkan hasil ratas tingkat pimpinan dan keputusan rakornas percepatan pembangunan lima DPSP khususnya yang berkaitan dengan pemasangan chattra di Candi Borobudur.

Supriyadi berharap kita perlu bergerak lebih cepat sehingga setiap arahan yang diberikan dapat kita selesaikan dengan sebaik-baiknya “Semoga kegiatan ini akan berdampak luas bagi kemajuan masyarakat Indonesia dan juga dunia,” ungkap Dirjen pada Jumat (08/03/2024).

Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mego Pinandito menyampaikan “Kalau berbicara Borobudur tujuan kita yang tebesar umat Buddha karena letaknya di Indonesia, sehingga semua umat Buddha sepertinya ingin sekali selalu berkunjung ke Borobudur,” terang Mego Pinandito.

Mego Pinandito menambahkan kalau kita mengangkat Borobudur sebagai salah satu, Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) maka banyak hal yang perlu dan harus terus kita kembangkan. “Bagaimana dari sisi religinya, bagaimana kesiapannya untuk menerima wisatawan, baik itu domestik maupun wisatawan di Indonesia, karena Borobudur sebagai satu peninggalan sejarah dan statusnya menjadi status warisan dunia UNESCO,” jelasnya.

Terkait pemasangan chattra pada stupa utama Candi Borobudur Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut isu strategis yang spesifik untuk pemasangan Chattra Candi Borobudur karena sebelumnya sudah ada, sebetulnya ada pembahasan mengenai  Heritage Impact Assessment HAI) yang sudah diselesaikan meskipun masih terus berlanjut dan ini tidak bisa lepas dari dukungan Tim dari Dirjen Kebudayaan di Kemendikbud Ristek, Kemenko PMK, Kemenko Marves, Kemenag, Kemenparekraf, PUPR, dan BRIN.

Mego Pinandito menambahkan bentuk dukungan pemasangan chatrra dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yakni kajian kebijakan untuk mendukung legalitas pemasangan chattra, kerjasama pelaksanaan Kajian Dampak Pemasangan Chattra bersama Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI yaitu memfasilitasi permintaan pemasangan chattra, penyediaan tenaga ahli / pakar terkait rencana pemasangan Chattra di Borobudur.

Sementara perwakilan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Anton Wibisono, mengatakan “bicara soal borobudur maka kita juga perlu mempertimbangkan mengenai autentisitas seperti yang tertuang dålam Nara Document on Authenticity, yaitu form and design: ada beberapa perkuatan dan penyesuaian yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk melindungi struktur Candi Borobudur. Kemudian material and subtance: Pemerintah Indonesia menggunakan batu sejenis untuk menggantikan batu yang rusak berat atau pecah pada struktur Candi Borobudur,” sebutnya.

Menurut Anton, tradition and technic untuk borobudur masih menggunakan teknik penguncian batu yang sama kemudian pembuatan, pemotongan batunya pun masih sama. Location and setting Candi Borobudur masih sama, yaitu perdesaan di dataran Kedu. Adapun kaitan dengan hal yang kita bahas hari ini adalah spirit and feeling.

“Ketika kita bahas mengenai spirit and feeling Candi Borobudur, maka autentisitasnya adalah ketika masuk ke sana (Candi Borobudur) kita dapatkan suasana sakral. Apabila pemasangan chattra ini dapat berkaitan dengan spirit and feeling, terutama bagi  umat Buddhis, maka itu juga merupakan bagian dari autentisitas.  Hal ini berdasarkan isi Nara Document on Authenticity kemudian yang diadopsi oleh Konvensi UNESCO 1972. Jadi masih ada spirit and feeling ketika masuk ke Candi Borobudur, yaitu nuansa sakral dari struktur Buddha,” lanjut Anton.

Terkait pemasangan chattra, Anton menambahkan agar segera disepakati bentuk oleh umat Buddhis dan berlanjut pada kemungkinan untuk memasangnya, mungkin kita perlu pertimbangkan secara bersama-sama berbagai pandangan para pemangku kepentingan sebelum melangkah menuju HIA dan menyampaikan ke Sekretariat Warisan Dunia UNESCO.

“Jika sudah ada kesepakatan bentuk, kesepakatan mengenai bahan maka kita perlu sepakat mengenai bagaimana memasangnya pada stupa induk Candi Borobudur,” pungkasnya.

Focus Group Discussion (FGD) pada tahap ke tiga ini, telah menyepakati jadwal kajian dampak di lapangan besuk tanggal 18 sd 22 Maret 2024 menghadirkan Tim Ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kemendikbudristek, Pakar / Praktisi Agama Buddha dan Tim Pendamping.


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait