Wonogiri (Bimas Budddha) ---- Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri terus berinovasi dalam meningkatkan mutu pendidikan keagamaan. Sebagai wujud implementasi nyata salah satu dari delapan program prioritas (Asta Protas) Kementerian Agama, kampus ini mengembangkan fasilitas unggulan berupa Sentra Ekoteologi.
Dalam Kawasan kampus didesain secara unik dengan mengintegrasikan tempat ibadah di dalam area konservasi alam, menegaskan pesan bahwa aktivitas spiritual dan pelestarian lingkungan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Dalam kesempatan peresmian Gedung Layanan Pendidikan STABN Raden Wijaya Wonogiri, Menag melakukan penanaman pohon Alpukat di area taman Sentra Ekoteologi. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, serta Wakil Bupati Wonogiri, Imron Rizkyarno.
Menteri Agama menekankan filosofi mendalam mengenai hubungan manusia dan alam. Lebih lanjut Menag mengingatkan bahwa alam semesta tidak boleh diposisikan semata-mata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.
"Filosofinya, manusia dan alam memiliki keterikatan yang kuat. Kita tidak boleh memperlakukan alam secara semena-mena. Alam semesta beserta seluruh isinya memiliki hak untuk lestari, dan manusia memiliki kewajiban moral untuk memuliakannya, bukan mendzaliminya," tegas Menag.
Sentra Ekoteologi ini diharapkan hadir sebagai laboratorium kesadaran bagi mahasiswa dan civitas akademika. Di tempat ini, mahasiswa tidak hanya memperdalam ilmu agama Buddha, tetapi juga mempraktikkan etika terhadap bumi (eco-ethics).
Menag Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen kampus untuk membangun kesadaran kolektif agar tidak terjebak pada orientasi materi yang berlebihan hingga mengabaikan keseimbangan ekosistem. Hal ini sejalan dengan ajaran luhur agama untuk menyebarkan cinta kasih kepada semesta.
"Kita perlu memperluas cakupan akhlak. Tidak hanya akhlak kepada Sang Pencipta dan sesama manusia, tetapi juga akhlak terhadap lingkungan, tumbuhan, dan hewan. Spiritualitas yang inklusif adalah yang membawa rahmat bagi semesta alam, sejalan dengan doa universal Semoga Semua Makhluk Berbahagia " imbuh Menag.
Ketua STABN Raden Wijaya, Dr. Sulaiman, menyebut bahwa pengembangan Sentra Ekoteologi ini mengusung semangat inovasi dengan tagline "Mengubah Sampah Menjadi Emas, Mengubah Emas Menjadi Berkah".
Salah satu bentuk implementasinya adalah pengelolaan limbah menjadi energi terbarukan. Keberadaan tempat ibadah di area ini menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa menjaga kesucian lingkungan adalah bagian integral dari menjaga kesucian batin.
Ketua juga menyampaikan melalui simbolisasi penanaman pohon alpukat, diharapkan tumbuh suburnya tanaman tersebut menjadi saksi komitmen STABN Raden Wijaya dalam merawat bumi.