Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Dari Niat Mulia Menjadi Ruang Bahagia: Perjalanan Komunitas Saddha Memberdayakan Lansia

Jumat, 28 Agustus 2026
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) — Keinginan untuk melihat para orang tua menjalani masa lanjut usia dengan bahagia menjadi titik awal lahirnya Komunitas Saddha. Gagasan itu disampaikan oleh Kepala Wihara Kesejahteraan, YM. Bhikkhu Nyanabodhi Mahasthavira, kepada Melly Kiong dalam sebuah percakapan yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.

Keinginannya terdengar sederhana. Namun, menerjemahkan kebahagiaan lansia ke dalam kegiatan yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka tentu bukan perkara mudah. Dari situlah perjalanan Komunitas Saddha dimulai, komunitas yang memiliki slogan “kami Sehat, kami Aktif, kami manDiri dan kami baHAgia” ini didirikan di bawah naungan Wihara Kesejahteraan, Jakarta. Komunitas ini lahir sebagai wadah pembinaan dan pemberdayaan bagi para lanjut usia. Melly Kiong kemudian bersama sejumlah pihak melakukan berbagai diskusi untuk memahami kebiasaan yang telah berkembang di lingkungan, sekaligus memetakan kebutuhan serta berbagai tantangan yang dihadapi para lansia.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan pemikiran. Gagasan untuk menghadirkan ruang yang dapat membuat para lansia merasa bahagia harus diwujudkan dalam kegiatan yang tidak sekadar mengisi waktu, tetapi juga memberi manfaat bagi kehidupan mereka. Komunitas Saddha akhirnya terbentuk pada Mei 2025 dengan sembilan orang anggota. Dalam perjalanannya, komunitas ini terus berkembang. Hingga kini, sekitar 50 lansia telah menjadi bagian dari kegiatan dan kebersamaan yang dibangun di dalamnya.

“Saya ingin para orang tua (lansia) memiliki ruang untuk tetap bahagia. Di usia senja, mereka tidak seharusnya hanya menunggu, merasa sendiri, atau berhenti menjalani kehidupan. Mereka tetap membutuhkan teman, semangat, dan kesempatan untuk terus bertumbuh. Ketika seseorang memasuki usia senja, yang dibutuhkan bukan hanya perhatian, tetapi juga keyakinan bahwa hidupnya masih dapat dimaknai dengan kebahagiaan. Karena itu, saya ingin menghadirkan sebuah ruang agar para lansia dapat bertemu, berbagi, tertawa, dan kembali menemukan semangat dalam menjalani hari-hari mereka, karena menjadi tua bukan berarti berhenti berarti,” ujar YM. Bhikkhu Nyanabodhi Mahasthavira pada Jumat (28/08/2026).

Bagi YM. Bhikkhu Nyanabodhi Mahasthavira, lansia membutuhkan lebih dari sekadar perhatian terhadap kondisi fisik. Mereka juga memerlukan ruang untuk berinteraksi, bertemu dengan sesama, merasa dihargai, serta tetap memiliki kesempatan untuk berkembang. Pemikiran itulah yang menjadi salah satu landasan dalam perjalanan Komunitas Saddha.

Komunitas ini hadir bukan hanya sebagai tempat berkumpul bagi para oma dan opa. Di dalamnya, para lansia didorong untuk tetap aktif menjalani kehidupan, membangun persahabatan, serta menjaga rasa percaya diri. Berbagai kegiatan rutin dirancang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup, kesehatan, dan kesejahteraan sosial para anggotanya. Melalui kegiatan tersebut, para lansia diajak untuk tetap mandiri dan produktif sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Melly Kiong, yang menjadi salah satu penggerak Komunitas Saddha, mengatakan bahwa pemberdayaan lansia menjadi perhatian penting dalam setiap kegiatan yang dijalankan.

“Kami konsen agar para lansia tetap produktif, minimal mampu merawat diri sendiri. Kami ingin para lansia menjadi pribadi yang berdaya dan tetap berkarya. Karena itu, kami mengajak mereka untuk tetap bahagia, aktif, dan berdaya,” ujar Melly.

Bagi Komunitas Saddha, perkembangan tidak semata-mata dilihat dari bertambahnya jumlah anggota. Ada perubahan lain yang justru menjadi ukuran paling berarti. Perubahan itu hadir dalam cerita-cerita sederhana. Ada lansia yang kembali bersemangat mengikuti kegiatan. Ada yang mulai berani berinteraksi dan beraktivitas. Ada pula yang menemukan kembali teman untuk berbagi cerita setelah sebelumnya menjalani hari-hari dengan ruang sosial yang terbatas.

Cerita-cerita seperti itulah yang, menurut para penggeraknya, menjadi bukti bahwa sebuah ruang perjumpaan dapat membawa perubahan dalam kehidupan seseorang. Tidak jarang, kisah yang dibagikan para oma dan opa juga menghadirkan rasa haru bagi   mereka yang mendampingi perjalanan komunitas ini. Komunitas Saddha juga membuka ruang kebersamaan bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama. Semangat yang dibangun adalah menghadirkan kebahagiaan, kepedulian, serta penghormatan kepada orang tua sebagai nilai yang dapat tumbuh di tengah kehidupan bersama.

Dalam konteks yang lebih luas, perjalanan Komunitas Saddha memperlihatkan bahwa rumah ibadah dapat mengambil peran sosial yang nyata. Wihara tidak hanya menjadi tempat umat menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan dan pemberdayaan masyarakat. Dari sebuah niat untuk melihat para lansia bahagia, lahirlah sebuah komunitas yang terus bertumbuh bersama para anggotanya.

Pada akhirnya, makna perjalanan Komunitas Saddha mungkin tidak terletak pada seberapa cepat jumlah anggotanya bertambah. Nilainya justru terlihat dalam perubahan yang dirasakan oleh mereka yang terlibat di dalamnya, ketika usia senja tetap memiliki ruang untuk bertemu, belajar, berkarya, dan menikmati hidup. Sebab, menjadi tua bukan berarti berhenti bertumbuh. Dan bagi para lansia di Komunitas Saddha, masa senja dapat tetap menjadi bagian kehidupan yang dijalani dengan semangat, kebersamaan, dan kebahagiaan.


Sumber
:
Humas Bimas Buddha
Penulis
:
Vikka Setiawati AP
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait