Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Bimas Buddha Siapkan Panduan Ekoteologi sebagai Langkah Strategis Pelestarian Alam

Rabu, 10 Desember 2025
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) —  Dalam upaya memperkuat pemahaman dan kesadaran umat Buddha mengenai pentingnya pelestarian lingkungan hidup, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha menyelenggarakan Diseminasi Buku Ekoteologi dalam Perspektif Agama Buddha: Etika Lingkungan Berbasis Dhamma pada Rabu (10/12/2025).

Kegiatan ini berlangsung secara hybrid dan menghadirkan Tim Penyusun Buku, pimpinan Perguruan Tinggi Agama Buddha baik negeri maupun swasta, Asosiasi Perguruan Tinggi Agama Buddha Indonesia (APTABI), Asosiasi Dosen Agama Buddha Indonesia (ADABI), Persatuan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) Pembimas, Kasi/Penyelenggara, Perkumpulan Penyuluh Agama Buddha Dhammaghosaka Indonesia (PPABDI), perwakilan majelis/lembaga/organisasi keagamaan Buddha, serta Kepala Dhammasekha se-Indonesia.

Dalam arahannya, Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi menegaskan bahwa isu ekoteologi telah menjadi perhatian serius Kementerian Agama selama setahun terakhir.Konsep ini tidak hanya bersifat gagasan, tetapi juga menjadi jawaban atas berbagai fenomena aktual seperti krisis iklim dan kerusakan alam.

“Inilah pentingnya kita memahami ekoteologi dalam perspektif agama Buddha. Mari kita mengulas dengan baik atas substansi Buddha Dhamma yang telah dirumuskan oleh Tim Penyusun,” ujarnya.

Supriyadi menyampaikan apresiasi kepada Asosiasi Dosen Agama Buddha Indonesia (ADABI) sebagai Tim Penyusun yang telah merumuskan konsepsi ekoteologi sesuai perspektif ajaran Buddha. Dirinya menegaskan bahwa alam semesta merupakan hukum yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, sehingga menjaga lingkungan adalah bagian dari pedoman moral dan spiritual.

Lebih lanjut, Dirjen menambahkan bahwa buku ekoteologi ini akan menjadi panduan penting dalam mengimplementasikan program prioritas Kementerian Agama. Ke depan, akan disusun pula panduan untuk ceramah dan tema-tema penguatan ekoteologi yang diambil dari berbagai substansi, sutta dan ajaran Buddha.

 “Harapan kami selama setahun ke depan kita akan bergerak secara masif untuk memperkuat keyakinan kita, pengalaman kita, dan aktivitas kita terhadap lingkungan  Dengan kekuatan keyakinan dan pengetahuan, kita dapat bergerak penuh kesadaran menjaga kelestarian alam,” tegasnya

Kegatan ini juga menjadi ruang dialog antara para narasumber, akademisi, dan praktisi untuk memperdalam pemahaman ekoteologi berbasis Dhamma. Buku ekoteologi tersebut rencananya akan diluncurkan secara resmi pada tahun 2026 sebagai panduan umat Buddha dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus memperkuat kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan.

Kontributor: Metta


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait