Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

STABN Raden Wijaya Raih Best Impact Project NMT LEAP 2026 melalui Transformasi Kepemimpinan dan Tata Kelola

Rabu, 26 Agustus 2026
Kategori : Berita

Wonogiri (Bimas Buddha) — Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri kembali menorehkan prestasi di tingkat Internasional. Ketua STABN Raden Wijaya, Sulaiman, meraih Best 1 Project Award kategori Best Impact Project dalam program DAAD DIES National Multiplication Training (NMT)–LEAP 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas proyek bertajuk “Project Management: Who Is the Real Garbage Collector?! – Leadership and Governance”. Meski berangkat dari persoalan sampah plastik di lingkungan kampus dan asrama mahasiswa, proyek ini berkembang menjadi praktik transformasi kepemimpinan dan tata kelola institusi. Bagi STABN Raden Wijaya, persoalan sampah bukan semata tentang bagaimana sampah diolah atau fasilitas disediakan. Persoalan tersebut menjadi titik awal untuk membangun kesadaran bersama tentang tanggung jawab, partisipasi, dan cara sebuah institusi bekerja.

“Pertanyaan Who is the real garbage collector? membawa saya pada kesadaran bahwa persoalan utama sebenarnya bukan sekadar sampah, tetapi tanggung jawab. Kita semua menghasilkan sampah, sehingga kita semua juga memiliki tanggung jawab terhadap apa yang kita hasilkan,” ujar Sulaiman. Pada Rabu (26/08/2026)

Melalui proyek tersebut, Sulaiman mendorong perubahan pendekatan kepemimpinan di lingkungan STABN Raden Wijaya. Kepemimpinan tidak lagi semata dipahami sebagai kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan instruksi atau menyediakan solusi, melainkan menciptakan ruang agar seluruh unsur institusi dapat terlibat dalam mengenali persoalan, merumuskan solusi, mengambil peran dan tanggung jawab bersama.

Leadership is not about having the solution. Leadership is about creating the conditions in which people become part of the solution,” kata Sulaiman.

Pendekatan tersebut mengubah pola pengambilan keputusan dari yang sebelumnya berpusat pada pimpinan menjadi lebih partisipatif. Persoalan dibawa ke ruang dialog dan kolaborasi yang melibatkan pimpinan, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, tim teknis, masyarakat, komunitas Buddhis, hingga pemerintah daerah. Dalam konteks ini, proyek tersebut juga menjadi praktik penguatan tata kelola atau governance. Tata kelola tidak hanya dipahami sebagai keberadaan struktur organisasi, aturan, atau SOP, tetapi sebagai cara membangun sistem yang memungkinkan setiap pihak memahami perannya, mengetahui alasan keterlibatannya, serta bertanggung jawab terhadap hasil yang ingin dicapai.

Melalui Dharma Ecology Living Laboratory, STABN Raden Wijaya mengembangkan ruang pembelajaran yang menghubungkan persoalan nyata dengan pendidikan, teknologi, nilai, partisipasi, dan tanggung jawab bersama. Sampah tidak lagi sekadar dipandang sebagai persoalan teknis, melainkan sebagai media untuk membangun budaya organisasi dan kepedulian bersama. Perubahan yang dibangun pun diarahkan tidak berhenti pada keberhasilan sebuah proyek. Tantangan berikutnya adalah memastikan perubahan tersebut terintegrasi dalam sistem dan tata kelola institusi sehingga tetap berjalan, bahkan tanpa ketergantungan penuh pada figur pemimpin.

“Keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan atau tersedianya fasilitas. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah cara institusi bekerja telah berubah,” ujar Sulaiman.

Dalam penghargaan yang diberikan pada 13 Agustus 2026, proyek tersebut dinilai memiliki visi strategis, kreativitas, kelayakan, serta potensi kuat dalam mendorong perubahan transformatif. Penghargaan ini sekaligus menjadi pengakuan atas upaya STABN Raden Wijaya dalam mengembangkan kepemimpinan yang partisipatif, tata kelola yang kolaboratif, serta transformasi institusi yang berorientasi pada dampak.

Melalui capaian tersebut, STABN Raden Wijaya menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi tidak selalu harus dimulai dari persoalan besar. Sebuah persoalan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk memperbaiki cara institusi memimpin, mengambil keputusan, membangun partisipasi, dan menciptakan rasa memiliki. Dari sebuah pertanyaan sederhana tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap sampah, STABN Raden Wijaya membangun pelajaran yang lebih luas, kepemimpinan bukan tentang menjadi satu-satunya pemilik solusi, melainkan menciptakan kesadaran dan sistem agar semakin banyak orang mampu menjadi bagian dari solusi.

Penghargaan Best Impact Project NMT LEAP 2026 pun menjadi penegasan atas transformasi tersebut, dari sebuah proyek menuju perubahan cara berpikir, dari kepemimpinan yang berpusat pada instruksi menuju partisipasi, serta dari kegiatan menuju tata kelola institusi yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.


Sumber
:
Humas Bimas Buddha
Penulis
:
Vikka Setiawati AP
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait