Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Songsong Waisak 2567 BE/2023: WALUBI Selenggarakan Bakti Sosial Pengobatan Gratis Bersama TNI, Polri dan Universitas

Rabu, 31 Mei 2023
Kategori : Berita

Magelang (Bimas Buddha) ------- Dalam menyongsong Hari Raya Tri Suci Waisak 2567 BE/2023, Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial Kesehatan yang bertempat di Taman Lumbini Kawasan Candi Borobudur, Selasa (30/05).

Dalam kesempatannya Dirjen Bimas Buddha Supriyadi menyampaikan apresiasi kepada WALUBI  yang tiada hentinya terus berkarya untuk memberikan perhatian kepada masyarakat di provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan Bakti Sosial Pengobatan gratis ini yang rutin dilaksanakan menyongsong pelaksanaan Waisak Nasional Candi Borobudur.

“Mementum waisak mari kita maknai dengan memberikan sebuah penguatan bahwa kita semua tentu perlu mengembangkan dan membangkitkan kebaikan. Dengan mengembangkan kebajikan belas kasih secara sosial kita terus berbuat baik kepada sesama.” ajak Dirjen.

Supriyadi juga mengingatkan bahwa kita diajarkan untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dan menjadi manusia yang mau melayani tanpa pamrih.

“Kita menjadi orang yang mengerti, sebab kita tidak hidup sendiri, atas faktor yang telah dilakukan oleh serta meningkatkan kesatuan sosial dalam mendorong perubahan sosial sehingga bisa membawa masyarakat yang lebih baik.” pungkasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo turut hadir dalam pembukaan acara baksos dan mengungkapkan kegembiraannya karena masyarakat dapat berkumpul kembali dari acara rutin pengobatan gratis.

Dalam sambutannnya, Ganjar memaparkan kondisi kesehatan dunia pasca pandemi Covid-19 serta tugas penting bagi kesehatan nasional yang merupakan bagian dari amanat bapak presiden Joko Widodo terutama dalam menghadapi angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian balita, bagaimana pola hidup bersih sehat, menurunkan angka stunting ke angka 14%, ajakan untuk jangan menikah dini bagi remaja putri dan masalah kemiskinan ekstrim yang berpengaruh terhadap penurunan kesehatan.

“Maka tentu saja apa yang dilakukan dalam perayaan Waisak dengan menghadirkan tenaga-tenaga medis, menghadirkan masyarakat untuk bisa diobati maka sejak dini kita akan bisa mengetahui kondisi kesehatan kita agar kita sebagai bangsa semakin hari semakin sehat, kelak kemudian semakin cerdas dan mampu untuk menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. Karena kami yakin ke-berdikarian itu bisa kita dorong karena kita mampu melakukan itu.” ungkapnya.

Ganjar mengungkapkan rasa kebanggaan dan keharuannya sebelum sampai ke Borobudur seraya berkata “Ini dipinggir jalan kok banyak sekali anak-anak ya, Kok banyak sekali orang-orang di pinggir jalan ada apa?”

“Ternyata mereka sedang menunggu bhikkhu yang jalan dan saya sempat menjumpai mereka. Mereka ceritakan bahwa tadi sudah berjalan kira-kira 1300 km. Mereka jalan dan sambutan dari masyarakat luar biasa, diiringi oleh ormas, TNI dan Polri, disediakan jalan, makanan, pemandangan yang menarik pada saat mereka minta foto bersama saya dan mereka beristirahat di Mushola.” tambahnya.

“Pemandangan yang indah sekali dan menggambarkan bagaimana hubungan antar agama dan manusia baik adanya.” tutup Ganjar.

Ketua Panitia yang diwakili oleh Karuna Murdaya melaporkan bahwa acara baksos didukung oleh sekitar 200 tenaga Dokter, lebih dari 400 tenaga Kesehatan, bekerja sama dengan beberapa Rumah Sakit & Universitas, serta 25 orang sukarelawan dengan target pasien sekitar 8000 warga yang membutuhkan dari sekitar Candi Borobudur dan Jawa Tengah.

WALUBI mengucapkan terima kasih kepada para dokter serta para tenaga medis yang betul-betul berhati luhur dan mulia. Tema waisak tahun ini adalah "Aktualisasikan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari", sub tema "Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa serta perdamaian dunia.

“Dari tema dan sub tema tersebut mengandung ajakan untuk berbuat baik, saling mencintai dan saling memaafkan dengan penuh kesadaran. Pentingnya cinta kasih sebagai sumber kebahagiaan yang alami tidak melekat pada hawa nafsu duniawi, yang sangat tidak kekal dan tidak abadi penuh dengan kekuatiran kecemasan keraguan menciptakan egoisme yang luar biasa, sehingga penderitaan dalam hidup ini tiada ujung akhirnya tersesat ke dalam Karma buruk" jelasnya.


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait