Jakarta (Bimas Buddha)— Pengukuhan Pengurus Pusat Perkumpulan Penyuluh Agama Buddha Dhammaghosaka Indonesia (PPABDI) Masa Bakti 2026–2031 di Jakarta, Rabu (15/7/2026), menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas layanan keagamaan Buddha di Indonesia. Melalui organisasi profesi ini, penyuluh agama Buddha diharapkan semakin profesional, kolaboratif, dan mampu menghadirkan pembinaan yang lebih responsif terhadap kebutuhan umat hingga ke berbagai daerah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menegaskan bahwa PPABDI bukan sekadar wadah organisasi, melainkan ruang untuk memperkuat semangat pengabdian para penyuluh dalam memberikan manfaat nyata bagi umat, masyarakat, bangsa, dan negara.
"Saya percaya teman-teman penyuluh berkumpul dalam PPABDI ini bukan sekadar sebagai euforia semata, tetapi ada sebuah niatan yang luhur di dalam diri setiap penyuluh," ujar Supriyadi saat mengukuhkan Pengurus Pusat PPABDI.
Menurutnya, penyuluh agama Buddha merupakan ujung tombak pelayanan keagamaan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Karena itu, setiap penyuluh dituntut tidak hanya menjalankan tugas secara profesional, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai kebutuhan umat melalui pelayanan yang berkualitas.
"Saya berharap seluruh penyuluh agama Buddha menjadi penyuluh yang bernilai, penyuluh yang bermanfaat, dan penyuluh yang memberikan dampak. Dampak kepada diri sendiri, dampak sebagai tanggung jawab administrasinya dan dampak sebagai umat Buddha yang harus berkontribusi bersama-sama mengembangkan agama Buddha,” harapnya.
Supriyadi juga mendorong kepengurusan PPABDI segera menyusun peta jalan organisasi lima tahun ke depan sebagai pedoman dalam mengembangkan organisasi secara terarah, terukur, dan berkelanjutan. Menurutnya, organisasi yang kuat dibangun melalui konsolidasi yang solid, kesamaan visi, serta budaya kerja yang mampu diinternalisasikan kepada seluruh anggota sehingga setiap program benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketua Umum PPABDI, Sri Kuncoko Weni, menjelaskan bahwa organisasi ini dibentuk karena selama ini masih banyak penyuluh, khususnya yang bertugas di daerah terpencil, menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan tugas pembinaan keagamaan. Melalui PPABDI, para penyuluh memiliki ruang untuk berdiskusi, saling berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan.

"Harapannya para penyuluh dapat terus meningkatkan kualitas diri sehingga penyuluhan kepada masyarakat menjadi lebih maksimal. Ketika ada kendala di lapangan, teman-teman bisa berdiskusi dan mencari solusi bersama," jelas Weni.
Pengukuhan Pengurus Pusat PPABDI juga menjadi momentum memperkuat sinergi antara organisasi profesi dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha dalam meningkatkan kualitas pembinaan umat, memperkuat moderasi beragama, serta mengembangkan inovasi pelayanan keagamaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Dengan kepengurusan baru ini, PPABDI diharapkan menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun SDM penyuluh yang profesional dan berintegritas. Semangat kolaborasi ini diharapkan bermuara pada peningkatan kualitas layanan, sehingga kehadiran negara dapat dirasakan secara nyata oleh seluruh umat Buddha di Indonesia.
Kontributor: Dwiyana Mettasari