Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Menelusuri Jejak Candi Jiwa dan Blandongan dalam Menghidupkan Ajaran Buddha

Rabu, 01 Juli 2026
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) – Di tengah hamparan sawah Karawang, berdiri  Candi Jiwa dan Candi Blandongan yang merupakan bagian dari Kompleks Pecandian Batujaya yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan Keputusan Mendikbud Nomor 76/M/2019. Situs keagamaan ini diperkirakan dibangun pada abad ke-5, kedua candi ini bukan sekadar tumpukan bata merah tetapi kedua candi tertua di Jawa ini adalah ruang hening yang mengajak kita merenungkan nilai welas asih dan kebijaksanaan.

Candi Jiwa dengan bentuk stupa terasnya dan Candi Blandongan yang menampilkan struktur berundak, menjadi bukti bahwa Karawang pernah menjadi pusat penyebaran ajaran Buddha di wilayah Jawa. Saat ini, situs ini tidak hanya dijaga sebagai warisan, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai pusat spiritual keagamaan.

Kunjungan wisatawan ke situs ini perlahan meningkat sejak adanya program-program pembinaan komunitas dan promosi pariwisata berbasis budaya. Selain memberi manfaat ekonomi lewat peningkatan permintaan seperti usaha kuliner lokal, kebangkitan aktivitas di sekitar candi juga membuka peluang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal akar sejarah dan kearifan lokal.

Pada masa libur sekolah, Candi Jiwa dan Candi Blandongan menjadi pilihan ideal untuk ziarah, meditasi, maupun kunjungan edukatif keluarga. Keduanya juga rutin digunakan sebagai lokasi perayaan Waisak dan Asadha, sehingga pengunjung berkesempatan menyaksikan tradisi yang hidup. Dengan pengelolaan yang tepat dan keterlibatan aktif masyarakat, diharapkan kedua candi tidak hanya lestari secara fisik tetapi juga berfungsi sebagai sumber inspirasi nilai-nilai Dharma.

Dengan pengelolaan yang tepat dan keterlibatan aktif masyarakat, Candi Jiwa dan Candi Blandongan diharapkan tak hanya lestari secara fisik tetapi juga berfungsi sebagai sumber inspirasi nilai-nilai Dharma. Kehadiran kedua candi itu menjadi pengingat bahwa Karawang pernah menjadi pusat peradaban Buddhis yang hidup, sebuah warisan yang jika dipelihara dapat terus menumbuhkan welas asih, kebijaksanaan, dan kebanggaan budaya bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Kontributor: Vividha Jati Ariya Gotami


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
A Wardiyanto
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait