Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Melestarikan Budaya Leluhur Melalui Ritual Keagamaan.

Minggu, 16 Oktober 2022
Kategori : Berita

Malang (Humas Buddha) --------------  Hari ini menjelang siang tim Bimas Budha memasuki Gerbang Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, diiringi dengan suara burung-burung yang merdu tampak tidak merasa lelah dalam menyumbangkan suaranya di alam yang sejuk, aroma kabut dan angin semilir menyambut tim dengan penuh keramahan.

Dataran tinggi menghampar dengan tanaman kentang dan sayuran lainnya yang sebagian besar sudah memasuki masa panen. Memanjakan mata pengunjung yang jarang melihat keindahan alam pegunungan. Beberapa pohon besar menghiasi lahan pertanian dan di pojok lahan tampak gubuk kecil yang di buat oleh petani untuk menyimpan pupuk dan peralatan pertanian.

Hari ini, rabu legi tanggal 12 Oktober 2022 sekitar pukul 12.00 di Vihara Paramita Umat Buddha Desa Ngadas melaksanakan puja bakti dan ritual keagamaan. Sejumlah tokoh agama, pengurus vihara, pemuda serta anak anak tampak sibuk menyiapkan sarana puja dan pelengkapan ritual keagamaan.

Semua umat, mamakai pakaian adat, dari udeng sampai sarung, dari kejahuan di depan vihara terdengar suara “Namo Buddhaya, monggo pak mlebet” (Namo Buddhaya silahkan masuk) ucap ketua vihara dengan penuh senyum menyambut umat yang datang. Kami tim Bimas Buddha juga tidak luput dari tatapan keramahan umat Buddha, sambil memandang malu-malu ada beberapa umat Buddha yang mengucapkan selamat datang. “sugeng rawuh bapak, monggo langsung mlebet acara badhe pun mulai,” (selamat datang bapak, silahkan masuk acara akan segera di mulai) kata salah satu pemuda yang menyapa kami.

Setelah semua umat masuk ke ruang dhamasala, pemimpin puja bakti mulai bersiap untuk bersama sama mulai acara ritual keagamaan. “Bapak, Ibu saudara sedharma mari kita bersiap siap, sebentar lagi acara akan segera di mulai,” ajaknya. Secara serempak semua umat diam dan berkosentrasi untuk mengikuti sembahyang secara khusuk.

Puja bakti sudah di mulai dan secara berurutan lantunan pembacaan paritta dan semua persembahan mulai di siapkan. Tampak dua pemimpin puja bakti dan empat sesepuh serta tokoh agama melakukan prosesi ritual. Dengan penuh hikmad dan khusuk semua umat mengikuti pembacaan paritta dan prosesi persembahan dari awal sampai akhir acara.

Dalam melaksanakan puja bakti atau ritual keagamaan yang diselenggarakan setiap hari rabu legi, umat Buddha Desa Ngadas menyiapkan beberapa persembahan, hal ini dilakukan untuk melestarikan budaya lokal dan ucapan terima kasih kepada leluhur.

Menurut Ketua Vihara Paramitta Witono menyampaikan dalam ritual keagamaan disajikan beberapa jenis makanan diantaranya nasi liwet, telur ayam kampung, sambel gepeng kotosan (sambel tanpa air) dan air dalam kendi yang ditutup daun dadap serep selanjutnya dijadikan satu wadah (layah). Semua dipersembahkan kepada eyang ibu bumi (eyang sriwidayaningrat) atas segala limpahan rezeki kepada umat manusia.

Kepala Desa Ngadas Mujianto menyampaikan Desa Ngadas dengan jumlah penduduk 1736 jiwa dan terdiri dari 541 kepala keluarga, ada tiga pemeluk agama yakni pemeluk agama  Buddha 50 %, pemeluk agama Islam 40 % dan pemeluk agama Hindu 10%.

Menurut Mujianto bahwa warga masyarakat Ngadas merupakan warga adat yang khususnya adat Tengger dan sampai saat ini masih memegang teguh yang dilaksanakan oleh para leluhur.

Mujianto juga menjelaskan tiga pemeluk agama yang bisa hidup berdampingan karena kita memang selalu memegang teguh adat istiadat Tengger ini yang menjadi kunci, dan mengapa warga Tengger harus menggunakan udeng itu mengandung filosofi yang sampai dengan saat ini dipegang teguh.

“Udeng mempunyai makna yang luar biasa dilihat dari bentuk mengapa udeng itu kita taruh di kepala karena kepala itu adalah pusat pikiran manusia yang disitu harus kita kendalikan dengan cara kita ikat agar supaya tau mana yang benar dan mana yang salah,” jelasnya.

Di tengah tengah pas dahi ada segitiga kebawah maka masyarakat Tengger itu mengutamakan kejujuran antara pikiran perkataan dan perbuatan harus sama.

Kemudian warna putih di belakang lanjut Mujianto artinya putih itu simbol dari kesuciaan, ini bentuk warga masyarakat Tengger bawasanya agama atau kita ibadah itu kepentingan pribadi bukan kepentingan umum karena yang menilai ibadah itu bukan manusia tetapi sang pencipta  atau Tuhan.

Berkaitan dengan ritual keagamaan yang dilaksanakan umat Buddha pada hari rabu legi pemerintah desa sangat mendukung.

“Pada intinya warga masyarakat Desa Ngadas sini Buddhanya Buddha Jawa sehingga apa yang dilaksanakan itu memang berkaitan dengan para leluhur terdahulu, dan pada intinya yang dilakukan atau dilaksanakan pada acara keagamaan selama kita dari pemerintah tetap melindungi atau selalu mendukung,” ungkapnya.  

Supriasih Ketua Sekolah Minggu Buddha (SMB) Paramitta mengungkapkan terima kasih kepada Kementerian Agama yang telah membantu perangkat gamelan hal ini untuk melestarikan budaya di Desa Ngadas.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan seperangkat gamelan dari Kementerian Agama, ini menjadi motifasi baru anak anak SMB dalam belajar melestarikan budaya lokal melalui gamelan,” tuturnya.

Lebih lanjut kata Supriasih setiap minggu, Sekolah Minggu Buddhis Paramitta belajar Nggamel (bermain gamelan) bersama sama dengan belajar memadukan nyayian buddhis, nyayian nasional dan tradisional dan mendapatkan dukungan positif dari pengurus vihara dan pemerintah Desa Ngadas.


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait