Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Pabbajja Samanera Melatih Umat Buddha Mempraktekkan Kehidupan Meninggalkan Keduniawian.

Senin, 04 Juli 2022
Kategori : Berita

Tangerang Selatan (Humas Buddha) -------------------- Bulan Juni merupakan kesempatan bagi remaja Buddhis atau umat Buddha untuk mengikuti Pabbajja Samanera.

Pabbajja Samanera merupakan kegiatan untuk melatih umat Buddha mempraktekkan kehidupan meninggalkan keduniawian.

Menurut Bhante Jayasilo, Pabbajja dalam literatur pali mengacu pada tindakan meninggalkan kehidupan berumah menuju kehidupan tanpa rumah.

“Syarat untuk mengikuti pabbajja samanera adalah seorang anak laki-laki yang sudah memiliki usia yang dikatakan cukup, Di zaman dahulu, anak laki-laki yang sudah bisa melempar burung gagak dengan batu, dianggap sudah cukup kuat fisiknya, sehingga memungkinkan untuk mendapatkan penahbisan sebagai samanera.,” jelas Bhante Jayasilo, Minggu (3/07).

Bhante juga menjelaskan, kegiatan ini jika diperuntukkan bagi pria, maka disebut Pabbajja Samanera, sedangkan bagi wanita disebut Latihan Atthasilani. 

Peserta Pabbajja untuk pria wajib mencukur habis rambut, alis, kumis dan jenggot. Serta melepaskan pakaian umat awam, menggantinya dengan jubah, hal ini dimaksudkan sebagai pelepasan keduniawian, mengikuti langkah Guru Agung Sang Buddha.

Sedangkan untuk peserta wanita diperkenankan mencukur habis rambut atau tidak, tetapi sangat disarankan untuk mencukur habis rambutnya. karena sebagai seorang wanita untuk melepas rambut yang dianggap sebagai mahkota, adalah hal yang tidak mudah. Hal ini juga dimaksudkan untuk melepaskan keduniawian, kemudian peserta wanita selanjutnya mengenakan jubah berwarna putih.

Dalam mengikuti Pabbajja, aktifitas semua peserta mengikuti jadwal yang telah ditentukan, yaitu bangun jam empat pagi untuk mulai bermeditasi, mengembangkan batinnya, mengikuti puja bakti pagi, kemudian mengambil mangkok (patta), dan menerima derma makanan dari masyarakat, mendapatkan pendidikan dari para Bhikkhu, serta melakukan puja bakti malam.

Kehidupan samanera dan atthasilani disokong oleh umat. Setiap harinya, para Samanera dan Atthasilani makan hanya 2 kali, yaitu pagi jam 7.00 dan siang jam 11.00, diperbolehkan juga hanya makan 1 kali, setelah lewat tengah hari, hanya mengkonsumsi minuman saja seperti air mineral, teh dan kopi. Tidak boleh makan malam, apalagi mengemil. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan, serta mempermudah kehidupan sebagai Samanera dan Atthasilani.

Dalam mengikuti Pabbajja, para Samanera dan Atthasilani juga diberikan pendidikan dengan penekanan keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Serta mempunyai attitude yang baik, etika sosial yang baik seperti: sopan santun dalam berperilaku, bisa menghargai orang lain, mempunyai etika yang baik kepada orang tua, teman, saudara, dan orang lain, bisa mandiri, mempunyai tingkah laku yang pantas, baik itu ketika sedang sendiri atau sedang dalam bersama orang lain.

Tingkah laku yang dimaksud bukan hanya tentang perbuatan saja, tetapi dimulai dari pikiran, serta ucapan. Bisa hidup disiplin dalam segala hal, mempunyai karakter yang baik, bisa hidup mandiri diatas kaki sendiri, mempunyai mental yang kuat, tidak manja. Utamanya bagi samanera yang mengikuti program remaja-pelajar

Kemudian, materi yang juga diberikan adalah meditasi, samanera-sikkha, pokok dasar agama Buddha, riwayat hidup guru agung sang Buddha, serta yang lain.

Dalam kesehariannya, para samanera menjalani 10 Aturan kemoralan ditambah 75 etika, serta aturan-aturan lainnya. 10 aturan kemoralan yang utama yaitu : tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran, tidak makan setelah tengah hari, tidak menggunakan bunga, wewangian, dan kosmetik, tidak menari, menyanyi, bermain musik, pergi menonton pertunjukan, serta tidak menggunakan tempat duduk atau tempat tidur yang mewah atapun tinggi, dan tidak menerima lagi emas, perak, dalam zaman ini disebut uang.

Pelaksanaan program Pabbajja Samanera dan Atthasilani bagi remaja-pelajar biasanya dilakukan selama 10 hari, program umum dilakukan selama 14 hari, program 10 hari dilakukan bersamaan dengan waktu liburan sekolah, agar pelaksanaannya tidak mengganggu aktivitas belajar, ada juga program pendidikan samanera dan atthasilani dilakukan mendekati waisak atau saat liburan akhir tahun.

Para Samanera dan Atthasilani sementara yang telah menyelesaikan program pendidikan diperkenankan untuk melanjutkan sebagai seorang samanera dan atthasilani tetap. Di mana seorang samanera yang telah mendapatkan pendidikan yang cukup dan memenuhi syarat, dapat ditahbiskan menjadi Bhikkhu, karena samanera merupakan calon Bhikkhu.

Selanjutnya peserta Pabbajja Samanera dan  Atthasilani akan mengikuti acara Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Agung di Candi Borobudur pada tanggal 8 sampai dengan 10 Juli 2022.


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait