Jakarta (Bimas Buddha) — Ribuan umat Buddha dari seluruh penjuru Indonesia mengikuti Hening Nusantara serentak di 34 provinsi, bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 Buddhist Era untuk memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid pada Rabu (20/5/2026) itu dipusatkan di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta, dihadiri Wakil Ketua Umum DPP WALUBI Karuna Murdaya dan Ketua Umum Permabudhi, Philip Kuntjoro Widjaja dan sekitar 3000 peserta hadir baik daring maupun luring untuk mempraktikkan hening, refleksi, dan penguatan nilai-nilai kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar memberi apresiasi atas terselenggaranya kegiatan. Menurutnya, hening bukan sekadar diam. Dalam keheningan, manusia belajar untuk mendengarkan suara batin, menata pikiran, serta merawat kebijaksanaan dan kasih sayang di tengah bising kehidupan.

“Saya memandang kegiatan ini sebagai ikhtiar spiritual dan sosial yang sangat baik dalam memperkuat nilai toleransi, moderasi, persaudaraan, dan harmoni kebangsaan. Ketika umat Buddha di 34 provinsi melaksanakan hening secara serentak, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya ketenangan pribadi, tetapi juga energi kedamaian untuk Indonesia,” kata Menag melalui tayangan video.
Sementara Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Supriyadi menyampaikan bahwa Program Vesakha Sananda diisi dengan berbagai kegiatan, salah satunya Hening Nusantara Serentak.
.jpg)
Supriyadi mengajak seluruh umat Buddha di tanah air untuk memanfaatkan 30 menit hening bersama sebagai latihan pengendalian diri. “Mari kita kendalikan nafsu-nafsu rendah kita. Kita kikis dosa, kita redam lobha (keserakahan), dan kita bersihkan moha (kegelapan batin). Mari kita pancarkan energi cinta kasih,” harap Dirjen.
Dalam kesempatan hadir membimbing Hening Nusantara, Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera menegaskan pentingnya membersihkan pikiran sebagai sumber utama persoalan hidup.

“Semua ucapan, respon, dan kondisi yang kita alami berasal dari pikiran. Jika masing?masing dapat menjaga dan membersihkan pikiran, masalah besar tidak akan ada. Gunakanlah awareness (kesadaran) sebagai potensi untuk membersihkan batin,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum DPP WALUBI Karuna Murdaya menyampaikan bahwa, kegiatan Hening Nusantara ini diajukan sebagai pencatatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori ‘Kegiatan Hening dengan lokasi terbanyak di 34 provinsi’. Ini menjadi bentuk apresiasi terhadap partisipasi masyarakat dalam gerakan spiritual yang membawa pesan kedamaian dan persatuan.

“Kita dari WALUBI senang sekali bisa ikut acara Hening Nasional hari ini, Kita rasa ini momentum yang baik dan program yang bisa mendukung kepentingan yang sangat penting di Indonesia,” terang Wakil Ketua Umum DPP WALUBI
Ketua Umum Permabudhi, Philip Kuntjoro Widjaja mengaku bersyukur atas terselenggaranya acara Hening Nusantara ini dan mendoakan agar Indonesia makin damai.

“Kami bersyukur hari ini bisa bergabung bersama rekan rekan saya. Kita senang sekali acara ini terselenggara sebagai bagian rangkaian peringatan Hari Raya Waisak 2026 menunjukkan kepedulian umat Buddha pada kesejahteraan masyarakat, pada kesuksesan pembangunan bangsa dan negara dan pada seluruh insan agama apa pun, kami mendoakan semoga semua bahagia dan bersyukur supaya tercapai dan mencurahkan segala energi yang membuat Indonesia makin damai,” sebutnya.
Kegiatan Hening Nusantara Serentak Seluruh Indonesia diharapkan menjadi momentum bersama untuk memperkuat nilai kebajikan, meningkatkan kesadaran batin, serta membangun semangat persatuan dalam keberagaman demi terciptanya masyarakat yang harmonis, moderat, dan berkarakter.
Di sela kegiatan Hening Nusantara, dilaksanakan Doa Tiga Tradisi yang dipimpin oleh Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera untuk tradisi Theravada, Bhiksu Sakya Sugata Sthavira untuk tradisi Mahayana, dan Biksu Lobsang Gyatso untuk tradisi Vajrayana.
Kontributor: Vividha Jati Ariya Gotami