Jakarta (Bimas Buddha) — Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara dan berbagai kegiatan seremonial. Di tengah keberagaman bangsa, rasa syukur atas perjalanan Indonesia juga dipanjatkan melalui doa bersama. Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026, Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat (Disbintalad) menyelenggarakan Doa Syukur atau Puja Bhakti Hari Kemerdekaan RI ke-81 Tingkat Kotama dan Balakpus TNI AD Wilayah Gartap I/Jakarta Tahun Anggaran 2026. Kegiatan yang berlangsung di Vihara Buddha Metta Arama, Jalan Terusan Lembang No. D59, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026), berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Plt Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha, Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, jajaran TNI dan Polri, Rektor Institut Nalanda, tokoh agama, ASN beragama Buddha, penyuluh, Forum Aktivis Buddhis Bersatu (FABB), serta umat Buddha.
Doa syukur menjadi wujud ungkapan terima kasih atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa dan para pahlawan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai unsur dalam semangat yang sama yaitu merawat Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga dan diisi. Dalam kehidupan yang semakin dinamis, semangat kebangsaan perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kerukunan. Kehadiran umat Buddha bersama unsur TNI AD, Polri yang beragama Buddha, dan ASN Ditjen Bimas Buddha dalam doa syukur ini juga memperlihatkan bahwa keberagaman bukan penghalang untuk berjalan menuju tujuan yang sama. Perbedaan justru menjadi kekuatan ketika seluruh elemen bangsa memiliki komitmen untuk menjaga Indonesia tetap damai dan bersatu.

Dalam Dhammadesana, Bhante Kamsai mengajak seluruh umat untuk menjadikan Pancasila sebagai nilai yang benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila ini jangan di ucapan, tapi di hati. Ketuhanan Yang Maha Esa ada di hati, kemanusiaan yang adil dan beradab juga di hati, Persatuan Indonesia juga di hati,” ujar Bhante Kamsai.
Menurutnya, semangat Pancasila memiliki keselarasan dengan nilai-nilai luhur dalam ajaran Buddha, terutama dalam membangun kemanusiaan melalui sikap tidak menyakiti, tidak mengambil hak orang lain, berkata benar, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Pancasila tidak seharusnya berhenti sebagai rangkaian kata yang dihafalkan. Nilai-nilainya perlu dihayati dan diwujudkan dalam tindakan nyata, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungan dengan sesama, demi menjaga persatuan, kerukunan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menekankan bahwa doa syukur dalam memperingati kemerdekaan hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Tidak hanya sekadar berdoa semata, tapi pesan Bhante tadi mengajak agar kita lakukan kebajikan. Hari ini mari kita bangkitkan kembali semangat kita. Ayo bersama kita tunjukkan bahwa TNI, Polri, dan umat Buddha Indonesia bisa membangkitkan semangat itu,” ujar Supriyadi.
Menurut Dirjen Bimas Buddha, momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk membangkitkan kembali semangat kebersamaan keluarga besar aparatur negara beragama Buddha, yang selama ini melibatkan unsur TNI, Polri, dan ASN. Semangat kebersamaan itu, menurutnya, perlu diterjemahkan dalam bentuk kebajikan, kegiatan sosial, dan sinergi antarelemen. Dengan demikian, doa yang dipanjatkan tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur, tetapi juga mendorong lahirnya kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Sementara itu, Kepala Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat yang diwakili Kepala Subdinas Pembinaan Rohani Hindu dan Buddha Disbintalad, Kolonel Infantri Made Mahardika, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kolaborasi berbagai pihak dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi penguat bagi prajurit TNI AD dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Kami selaku TNI, kalau sudah disupport, semangat kami akan timbul, semangat kami selaku kesatria dan patriot. Kemudian, panggilan negara, intinya harus kita laksanakan. Itu prinsip kami,” ujar Made Mahardika.
Ia berharap sinergi yang telah terbangun dapat terus dilanjutkan dalam berbagai kegiatan ke depan. Kolaborasi antarlembaga dan berbagai unsur masyarakat, menurutnya, menjadi bagian penting dalam memperkuat semangat pengabdian kepada negara.
Suasana khidmat di Vihara Buddha Metta Arama pada siang itu akhirnya membawa satu pesan sederhana, tetapi penting. Merawat Indonesia tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Doa, kebajikan, kepedulian, dan kemauan untuk bekerja bersama dapat menjadi bagian dari upaya menjaga bangsa ini. Di usia ke-81 tahun kemerdekaannya, Indonesia kembali diingatkan bahwa perjuangan para pendahulu kini dilanjutkan dengan cara yang berbeda, menjaga persatuan, merawat keberagaman, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Kemerdekaan telah diwariskan. Tugas generasi hari ini adalah mengisinya dengan pengabdian dan kerja nyata.
Dokumentasi: Wardianto, Charlie Ariya Bodhi, Ananta