Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id

Ditjen Bimas Buddha Harapkan Candi Puthuk Ayem Perkuat Spiritualitas dan Kerukunan

Kamis, 22 Oktober 2026
Kategori : Berita

Blitar (Bimas Buddha) — Peresmian Candi Puthuk Ayem di Vihara Buddha Sasana Jaya, Desa Boro, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, diharapkan memperkuat kehidupan spiritual umat Buddha sekaligus memperluas kontribusi sarana keagamaan dalam merawat kerukunan masyarakat. Peresmian yang berlangsung pada Rabu (21/10/2026) ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-50 Sa?gha Therav?da Indonesia (STI).

Peresmian Candi Puthuk Ayem ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti oleh Bupati Blitar, Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, serta para bhikkhu. Kegiatan yang berlangsung di pelataran candi tersebut turut dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Blitar, Kepala Kejaksaan Negeri Blitar, Kapolres Blitar, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Blitar, Plt. Pembimbing Masyarakat Buddha Provinsi Jawa Timur, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta umat Buddha.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Triroso, menekankan bahwa keberadaan candi perlu dimaknai lebih dari sekadar sarana peribadatan. Candi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan nilai cinta kasih, mempererat hubungan antarmasyarakat, serta membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

“Candi merupakan pusat sinergi spiritual yang luar biasa. Jadikan tempat ini pusat cinta kasih dan perdamaian bagi sesama,” pesannya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa penguatan kehidupan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan upaya membangun kepedulian sosial. Melalui pengamalan nilai-nilai Dhamma, umat Buddha diharapkan terus mengembangkan sikap saling menghormati dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua STI, Bhikkhu Sri Subbapano Mah?thera, menjelaskan bahwa candi merupakan salah satu sarana untuk memperkenalkan keluhuran Buddha Gotama. Ia juga menguraikan makna filosofis nama Puthuk Ayem. Kata puthuk berarti tinggi, sedangkan ayem bermakna tenteram. Nama tersebut merefleksikan harapan agar candi dapat menghadirkan ketenangan bagi pengunjung dan menginspirasi kehidupan yang lebih damai.

Sementara itu, Bupati Blitar menyambut kehadiran Candi Puthuk Ayem sebagai tambahan destinasi keagamaan di wilayahnya. Ia juga mengapresiasi pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan candi dan berharap keberadaannya dapat menjadi teladan dalam memelihara kerukunan dan keharmonisan masyarakat.

“Saat ini satu lagi candi bertambah di Blitar, yaitu Puthuk Ayem. Terima kasih, Bhante Sukhito. Semoga ini menjadi contoh, teladan, dan barometer kerukunan di Indonesia,” ungkapnya.

Ditjen Bimas Buddha berharap keberadaan Candi Puthuk Ayem dapat mendukung pembinaan umat melalui tersedianya ruang untuk beribadah, memperdalam pemahaman Dhamma, serta mengembangkan praktik kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan spiritualitas umat ini diharapkan berjalan beriringan dengan penumbuhan nilai cinta kasih, perdamaian, dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Humas Kanwil Kemenag Prov. Jawa Timur

 

 


Sumber
:
Humas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur
Penulis
:
Meta Setiya W
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait