Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Ditjen Bimas Buddha Gelar Rapat Koordinasi, Bahas Tahapan Adaptasi Pemasangan Chattra Borobudur

Kamis, 15 Januari 2026
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) ----- Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha menggelar Rapat Tindak Lanjut Tahap Awal Adaptasi Pemasangan Chattra pada Stupa Induk Candi Borobudur dengan mengundang pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat dan Organisasi Masyarakat Buddha, Kamis (15/1/2026), di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta.

Rapat ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha dalam melaksanakan pembinaan, bimbingan, serta pemajuan kehidupan keagamaan Buddha, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 33 Tahun 2024.

Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi telah menyelenggarakan rapat koordinasi lintas kementerian dan para ahli termasuk Ditjen Bimas Buddha, terkait rencana pemasangan Chattra Candi Borobudur. Hasil rapat tersebut menjadi masukan awal yang bersifat konseptual dan teknis, yang selanjutnya perlu ditindaklanjuti melalui dialog internal umat Buddha.

Oleh karena itu, Ditjen Bimas Buddha memandang perlu mengundang pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat dan Organisasi Masyarakat Buddha untuk membahas langkah awal dari tujuh tahapan adaptasi pemasangan Chattra, khususnya dari perspektif spiritual, simbolik, dan filosofis umat Buddha.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menegaskan bahwa pembahasan mengenai pemasangan Chattra dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan tidak bersifat instan.

“Pembahasan mengenai Chattra ini telah melalui proses yang panjang, melibatkan kajian, diskusi akademik, serta dialog dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, tahap awal ini difokuskan pada penyamaan persepsi dan kesepahaman umat Buddha,” jelasnya.

Dirjen menambahkan bahwa pendekatan adaptasi dipilih sebagai bentuk kehati-hatian serta komitmen untuk menghormati nilai spiritual umat Buddha tanpa mengabaikan prinsip pelestarian cagar budaya.

“Karena Chattra berkaitan langsung dengan spiritualitas umat Buddha, maka kesepahaman ini harus lahir dari umat Buddha itu sendiri,” tambahnya.

Dalam rapat tersebut, para narasumber menyampaikan pandangan dan kajian akademik sebagai bahan diskusi. Hudaya Kandahjaya memaparkan bahwa adaptasi Chatravali Borobudur tidak hanya berkaitan dengan aspek estetika atau sejarah, melainkan juga pemaknaan Borobudur sebagai stupa Tathagata dan monumen hidup yang memiliki makna spiritual.

Hendrick Tanuwidjaja menyampaikan bahwa persembahan Chattra dapat dipahami sebagai wujud kebajikan umat Buddha yang diarahkan pada penguatan nilai spiritual dan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, Handaka Vijjananda menegaskan bahwa rencana adaptasi pemasangan Chattra tetap akan mengindahkan kaidah pelestarian cagar budaya, ketentuan UNESCO, serta regulasi Kementerian Kebudayaan, termasuk melalui pelaksanaan Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB) atau Heritage Impact Assessment (HIA).

Masukan dan pandangan dari pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat serta Organisasi Masyarakat Buddha dalam rapat ini menjadi landasan awal bagi penyusunan dokumen adaptasi tahap pertama, yang selanjutnya akan menjadi rujukan pada tahapan berikutnya dari tujuh tahapan adaptasi pemasangan Chattra.

Hasil rapat dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat dan Organisasi Masyarakat Buddha sebagai bentuk kesepahaman awal umat Buddha dalam proses adaptasi pemasangan Chattra Candi Borobudur.


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait