Tangerang (Bimas Buddha)— Membangun bangsa yang cerdas tidak hanya dilakukan melalui ruang kelas, tetapi juga dengan menumbuhkan budaya literasi. Komitmen itulah yang diwujudkan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya melalui penyelenggaraan 1st Buddhist Book Fair, pameran buku Buddhis pertama yang menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan, nilai-nilai spiritual, dan budaya membaca.
Mengusung tema "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Melalui Budaya Literasi dan Kecintaan Ilmu sebagai Wujud Nyata Kurikulum Berbasis Cinta", kegiatan yang berlangsung pada 30–31 Juli 2026 di Kampus STABN Sriwijaya, Tangerang, ini menjadi bagian dari rangkaian peresmian Gedung Pusat Layanan Pendidikan sekaligus menyambut transformasi STABN Sriwijaya menuju Institut Agama Buddha Negeri (IABN) Sriwijaya.
Pameran diselenggarakan oleh STABN Sriwijaya bekerja sama dengan berbagai penerbit Buddhis, di antaranya Ehipassiko Foundation, Lamrimnesia, Pustaka Dhammavihari Buddhist Studies (DBS), Lokuttara Dhamma, Yasodhara Putri, Kadam Choeling, SW Press, serta sejumlah penerbit Buddhis lainnya. Kolaborasi ini menghadirkan beragam referensi keilmuan dan spiritualitas Buddhis bagi mahasiswa, akademisi, umat Buddha, dan masyarakat luas.
.png)
Pelaksana Tugas Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha Budi Sulistiyo mengatakan bahwa penguatan budaya literasi melalui kecintaan terhadap ilmu pengetahuan merupakan implementasi nyata dari Kurikulum Berbasis Cinta yang sejalan dengan arah kebijakan Menteri Agama dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem akademik yang inklusif, kolaboratif, serta berorientasi pada penguatan budaya literasi guna mencetak insan akademik yang berintegritas, bijaksana, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, membangun cara berpikir kritis, serta membentuk insan akademik yang berintegritas, bijaksana, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, kami berharap perguruan tinggi dapat menghadirkan ekosistem akademik yang inklusif, kolaboratif, dan semakin menguatkan budaya literasi," ujar Budi Sulistiyo.
.png)
Ketua STABN Sriwijaya Edi Ramawijaya mengatakan bahwa 1st Buddhist Book Fair tidak dimaksudkan sekadar menjadi kegiatan yang ramai atau bersifat seremonial. Menurutnya, kegiatan perdana ini sengaja diselenggarakan secara sederhana dengan melibatkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha sebagai bentuk penegasan bahwa penguatan literasi dan keilmuan harus dibangun melalui buku dan berbagai literatur sebagai fondasi utama dunia akademik.
"1st Buddhist Book Fair ini bukan sekadar acara yang ramai atau sekadar sebuah event. Kami sengaja menyelenggarakannya secara sederhana, karena kami ingin memaknai bahwa sesuatu yang kuat harus dibangun melalui literasi dan keilmuan yang bertumpu pada buku serta berbagai literatur," ujar Edi Ramawijaya.
Selama dua hari penyelenggaraan, pengunjung disuguhkan beragam kegiatan edukatif, mulai dari bazar buku, bedah buku, jelajah jendela literasi dan spiritualitas Buddhis, hingga layanan pengobatan gratis yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Dokter Muda Buddhis Seluruh Indonesia (PDMBSI). Selain itu, stan kuliner "Masakan Nusantara" yang dikelola Dharma Wanita Persatuan (DWP) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) turut menyemarakkan kegiatan, menghadirkan pengalaman yang memadukan literasi, kesehatan, dan kebersamaan.
Penyelenggaraan 1st Buddhist Book Fair menjadi bukti bahwa penguatan pendidikan tinggi keagamaan Buddha tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga melalui pengembangan budaya membaca dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Melalui kegiatan ini, STABN Sriwijaya berharap semakin banyak masyarakat yang menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat nilai-nilai kebijaksanaan, welas asih, dan pembelajaran sepanjang hayat sebagai fondasi membangun Indonesia yang maju.
Kontributor dan Foto: Ananta
Narasi: Dwiyana Mettasari