Wonogiri (Bimas Buddha) — Sebanyak 160 lulusan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri resmi dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-XVI dan Magister Kepenyuluhan Buddha ke-I Tahun 2026, Rabu (23/9/2026). Prosesi wisuda berlangsung di Gedung Adinata STAB Negeri Raden Wijaya, Jalan Kantil, Bulusulur, Wonogiri, Jawa Tengah. Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Wonogiri, unsur DPRD Wonogiri, Kodim, Polres Wonogiri, Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, Pembimas Buddha, serta sejumlah pimpinan lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan Buddha. Di antara para tamu undangan juga hadir Ketua DPD Walubi, Ketua Pusat Pendidikan Fo Guang Shan, Ketua STHAN Jawa Dwipa, Ketua STAB Syailendra, Ketua STIAB Smaratungga, Ketua STAIMAS Wonogiri, Ketua STP Sahid Wonogiri, Ketua DPD MBI Jawa Tengah, dan Ketua WBI Jawa Tengah dan tamu undangan lainnya.
Pelaksanaan wisuda tahun ini memiliki arti khusus bagi STABN Raden Wijaya. Untuk pertama kalinya, perguruan tinggi keagamaan Buddha tersebut mewisuda lulusan Program Magister Kepenyuluhan Buddha. Sebanyak 160 wisudawan berasal dari tujuh program studi yaitu Program Studi Kepenyuluhan Buddha sebanyak 52 lulusan, Ilmu Komunikasi Buddha 28 lulusan, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Buddha 25 lulusan, Kepanditaan Buddha 18 lulusan, Pariwisata Buddha13 lulusan, Pendidikan Keagamaan Buddha 12 lulusan, serta Magister Kepenyuluhan Buddha sebanyak 12 lulusan.
Kehadiran lulusan magister untuk pertama kalinya menjadi penanda bahwa pengembangan pendidikan di STAB Negeri Raden Wijaya tidak berhenti pada perluasan akses jenjang akademik. Ada kebutuhan yang lebih besar yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu membawa pengetahuan keagamaan ke dalam persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Khusus di bidang kepenyuluhan, kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan. Penyuluh tidak hanya dituntut memahami ajaran dan memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi, mendampingi umat, membaca perubahan sosial, serta menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan komunitas. Karena itu, gelar akademik yang diterima para wisudawan hari ini bukanlah garis akhir. Justru setelah meninggalkan kampus, pengetahuan mereka akan berhadapan dengan ruang pengabdian yang sesungguhnya di tengah umat, masyarakat, lembaga pemerintahan, komunitas, maupun lingkungan sosial yang terus berubah.
.jpg)
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi dalam kesempatannya mengingatkan pentingnya perguruan tinggi mempersiapkan lulusan yang mampu mengambil peran produktif bagi bangsa dan negara. Ia merujuk pada proyeksi kependudukan Indonesia yang menunjukkan besarnya proporsi penduduk usia produktif pada periode mendatang. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu dipersiapkan dengan serius agar bonus demografi tidak sekadar menjadi angka statistik, tetapi benar-benar menjadi kekuatan pembangunan.
“Melihat data BPS, kurang lebih 68 persen pada akhir tahun 2030 kita akan menghadapi bonus demografi. Ini penting agar kita tidak bereuforia. Sesungguhnya ada dua hal penting. STAB juga harus berkontribusi menyiapkan para lulusan yang nantinya betul-betul berkontribusi dan produktif. Karena itu, saya berharap sarjana-sarjana agama maupun nonagama yang dihasilkan betul-betul bisa berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara,” pinta Supriyadi.
Dirinya juga berharap lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi keagamaan Buddha, baik sarjana agama maupun nonagama, memiliki kemampuan untuk mengambil bagian dalam pembangunan.

Sementara Ketua STAB Negeri Raden Wijaya, Sulaiman, dalam pesannya kepada para wisudawan menekankan pentingnya menjadikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan sebagai bekal untuk mengabdi dan memberikan manfaat.
“Mulai besok, buktikan bahwa gelar yang Saudara bawa pulang mempunyai dampak bagi masyarakat. Bawa nama baik STABN Raden Wijaya. Jadilah lulusan yang tidak hanya memiliki knowledge, tetapi juga pengembangan ke arah ultimate wisdom. Tidak hanya memiliki kemampuan profesional, tetapi juga memiliki compassion. Dan jangan pernah berhenti belajar, sebab semangat Prajnaparamita, perjalanan menuju kebijaksanaan yang terus melampaui batas. Gate gate paragate parasamgate bodhi svaha. Pergilah, teruslah melangkah, melampaui batas-batas diri menuju kebijaksanaan”, pesan Sulaiman.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih luas. Para lulusan diharapkan mampu memadukan pengetahuan dan kompetensi profesional dengan kebijaksanaan serta kepedulian terhadap sesama. Nilai Prajnaparamita yang disampaikan menjadi pengingat agar ilmu terus dikembangkan melalui proses belajar yang tidak berhenti, sekaligus diterjemahkan dalam tindakan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi STAB Negeri Raden Wijaya, capaian wisuda ke-XVI dan magister kepenyuluhan Buddha pertama ini sekaligus memperlihatkan arah pengembangan perguruan tinggi yang semakin luas. Pendidikan akademik diarahkan untuk berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat. Para lulusan pun akan menempuh jalan pengabdian yang berbeda. Sebagian dapat melanjutkan kiprah sebagai pendidik, penyuluh, aparatur, komunikator, pengelola pariwisata, pemuka agama, maupun mengambil peran di berbagai ruang sosial lainnya. Namun, muaranya tetap sama ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi harus menemukan manfaatnya ketika kembali ke masyarakat. Di sanalah sesungguhnya makna widuda, bukan pada gelar dan toga yang dikenakan hari ini, melainkan pada apa yang dilakukan setelahnya.
STABN Raden Wijaya diharapkan terus melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga integritas, kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, dan kesediaan untuk mengabdi. Dengan demikian, pendidikan tinggi keagamaan Buddha dapat semakin nyata mengambil bagian dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan, berdaya, dan harmonis.
Foto : Kurnia Anggraini