Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Siapkan Strategi Pembangunan dan Penguatan Kehidupan Beragama untuk Umat Buddha Indonesia Masa Depan

Senin, 29 Desember 2025
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) ----- Dalam menyiapkan strategi jangka panjang dan merencanakan arah kebijakan serta memperkuat kualitas kehidupan umat Buddha di Indonesia, Ditjen Bimas Buddha menggelar Serial Konsultasi Program Kementerian Agama dengan tema "Strategi Pembangunan Umat Buddha Masa Depan” pada Senin (29/12/2025).

Kegiatan sehari membahas tentang Penguatan Pendidikan Keagamaan Buddha Tingkat Dasar, Menengah sampai Pendidikan Tinggi, Penguatan Kehidupan Beragama, Kerukunan dan Ekoteologi dalam Pembangunan Umat Buddha.

Acara menghadirkan narasumber Staf Ahli Menteri Agama, antara lain Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Ph.D.; Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, M.A.; Dr. Budhy Munawar Rachman; dan Gugun Gumilar, M.A., Ph.D. dan diikuti oleh pejabat eselon II, III, JFT pada Ditjen Bimas Buddha serta perwakilan organisasi keagamaan dan pendidikan keagamaan Buddha, perwakilan PTKB, dan unsur organisasi pemuda Buddhis.

Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi, mengatakan bahwa kegiatan ini melibatkan para stakeholder sebagai bagian dari upaya merumuskan Rencana Strategis (Renstra) Bimas Buddha Tahun 2025–2029. Menurutnya, berbagai hal yang telah dikerjakan masih memerlukan penajaman, terutama terkait kebijakan Menteri Agama yang akan diimplementasikan dalam program dan kegiatan Bimas Buddha. Langkah ini dilakukan dalam rangka menjawab kebutuhan umat Buddha Indonesia di masa depan.


 

Supriyadi menambahkan bahwa pihaknya ingin memperoleh penajaman dari Penasihat Menteri Agama agar rancangan yang disusun benar-benar mampu menjawab kebutuhan dan mendorong kemajuan umat Buddha. Hal tersebut sejalan dengan tugas Ditjen Bimas Buddha dalam memberikan layanan kepada umat Buddha Indonesia. Dirinya berharap program yang dirancang harus memberikan dampak yang semakin baik bagi umat Buddha Indonesia.

Dalam kesempatan pembahasan Pendidikan Keagamaan Buddha Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Ph.D., menyebut masih terdapat sejumlah tantangan dalam peningkatan akses dan mutu pendidikan Agama Buddha diantaranya tata kelola dan standarisasi, kapasitas SDM pendidik, relevansi kurikulum dan bahan ajar, ketersediaan sarana-prasarana, serta penerapan SPMI dalam persiapan akreditasi.

Fasli Jalal juga menjelaskan terdapat beberapa peluang dalam melakukan peningkatan akses pendidikan agama Buddha yang bermutu yakni adanya regulasi mutakhir bagi pendidikan keagamaan Buddha, penataan tata kelola dan standarisasi, pemanfaatan digitalisasi seperti Learning Management System dan kelas jarak jauh, serta penguatan kemitraan sinergis antara vihara, yayasan, pemerintah daerah, dan dunia usaha untuk mempercepat pemenuhan sarana-prasarana dan beasiswa. Ia juga menekankan pentingnya penerapan SPMI sebagai pengungkit budaya mutu, khususnya di pendidikan tinggi.

Sementara Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., M.A., menyampaikan bahwa Pendidikan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) memiliki peran strategis dalam membangun kualitas SDM umat Buddha. PTKB diharapkan dapat mencetak lulusan yang berkarakter, berdaya saing, dan beretika, serta menjadi pusat kaderisasi intelektual dan kepemimpinan umat. Strategi yang disarankan meliputi penguatan kurikulum berbasis kebutuhan umat, digitalisasi pembelajaran, pengembangan SDM dosen dan tenaga kependidikan, serta perluasan jejaring nasional dan internasional.

Kegiatan juga membahas tentang Ekoteologi dalam Agama Buddha.  Menurut Dr. Budhy Munawar Rachman bahwa Buddhisme memandang seluruh bentuk kehidupan pada hakikatnya saling terhubung. Ajaran ini menekankan konsep "ahimsa" atau nir-kekerasan yang berlaku tidak hanya terhadap sesama manusia tetapi juga terhadap semua makhluk hidup. Buddhisme mendorong pengikutnya untuk hidup sederhana dan berkelanjutan, mengurangi konsumsi, dan meminimalkan kerusakan terhadap alam.

Budhy menambahkan bahwa praktik Ekoteologi ini telah diimplementasikan secara nyata di berbagai sekolah Buddhis mancanegara. Integrasi dilakukan dengan memasukkan materi tentang keterkaitan makhluk hidup dan urgensi konservasi alam ke dalam kurikulum. Metode pembelajarannya pun kerap melibatkan meditasi alam dan retret, yang bertujuan agar peserta didik dapat mengalami secara langsung koneksi batin antara diri mereka dengan lingkungan sekitar.

Dalam Bidang Penguatan Kehidupan dan Kerukunan Beragama,Gugun Gumelar, M.A., Ph.D menekankan urgensi literasi agama agar umat tidak teralienasi dari tradisi agamanya. Ia menegaskan bahwa fondasi peradaban adalah pendidikan berlandaskan agama, tanpa itu masyarakat berisiko kehilangan keseimbangan antara nilai spiritual dan kemajuan material. Mengutip data OECD, Gugun menilai sektor pendidikan Indonesia menghadapi tantangan besar, sehingga revitalisasi pendidikan menjadi kunci dalam persiapan Indonesia Emas 2045.

Serial Konsultasi Program ini diharapkan menghasilkan masukan konstruktif bagi penyempurnaan grand design dan Renstra Bimas Buddha 2025–2029, serta mendorong sinkronisasi program dengan kebijakan nasional demi pembangunan umat Buddha yang berkelanjutan.


Kontributor : Vivi 


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait