Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Semarak Waisak 2026, Ribuan Umat Buddha Ikuti Kirab dari Candi Mendut ke Candi Borobudur

Minggu, 31 Mei 2026
Kategori : Berita

Magelang (Bimas Buddha) ----------- Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE Tahun 2026 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026), memasuki detik-detik puncak. Minggu siang, Api Dharma dari Mrapen, Grobogan dan Air Berkah dari Umbul Jumprit, Temanggung yang sebelumnya disemayamkan di Candi Mendut dikirab ribuan umat Buddha menuju Candi Borobudur. Perayaan ritual setahun sekali ini juga menjadi pemandangan menarik bagi warga sekitar candi dan para wisatawan.

Prosesi dimulai dengan keberangkatan rombongan pembawa bendera yang meninggalkan kompleks Candi Mendut sdekitar pukul 10.00 WIB. Pada barisan berikutnya antara lain iring-iringan mobil pembawa Api Dharma, mobil Air Berkah, tandu Garuda Pancasila, Barusan Bhinneka Tunggal Ika, tandu Kitab Suci Tripitaka dan pembawa hasil bumi. Deretan payung berwarna warni yang dibawa sejumlah Bhikkhu Sangha juga kian menambah menarik perjalanan kirab tahun ini.

Rombongan berikutnya adalah  para  bhikkhu yang diangkut dengan kendaraan hias di atas kendaraan, para bhikku duduk rapi sambil merapal doa, mantra dan memercikkan air berkah kepada umat yang berjubel mendekat. Raut bahagia tampak jelas dirasakan para umat yang berhasil mendapat cipratan air langsung dari bhikku. Deretan rombongan kian memanjang ke belakang yang antara lain diisi para perwakilan majelis umat Buddha dan simpatisan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Tak hanya umat Buddha, iring-iringan peserta kirab yang panjangnya mencapai sekitar 3 kilometer ini juga jadi tontonan menarik masyarakat umum. Banyak warga Magelang dan sekitarnya yang sengaja datang ke kawasan Mendut agar bisa melihat langsung kemeriahan dan keunikan kirab keagamaan tersebut. Tak sedikit pula para turis asing menonton dan sebagian bahkan mengikuti jalannya kirab sampai akhir.

Umat Buddha dari Kota Tangerang yang juga Anggota DPRD Kota Tangerang Christian Lois menyampaikan bahwa kirab atau arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur yang dilaksanakan tiap tahun harus tetap dilestararikan dengan baik karena merupakan kegiatan tradisi dan toleransi kepada suluruh umat di Indonesia.

Christian juga mengatakan bahwa kegiatan Waisak di Candi Borobudur tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga pusat spiritual bagi umat Buddha. Momentum Waisak dimanfaatkan untuk berkumpul bersama dan mengikuti berbagai kegiatan yang positif. Pada Hari Raya Waisak ini, ia berharap seluruh masyarakat memperoleh berkah, kedamaian, dan kebahagiaan.

Sementara itu, Ulfa, salah seorang warga Mungkid, menyebut bahwa kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur merupakan tradisi yang digelar setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi hiburan sekaligus daya tarik bagi masyarakat setempat.

“Saya bersama keluarga sejak pagi menunggu di sini untuk menyaksikan arak-arakan Hari Raya Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Momen yang berlangsung setiap tahun ini memang menjadi hiburan bagi masyarakat saat perayaan Waisak umat Buddha,” ujarnya.


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait