Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id

Sebelum Merancang Masa Depan, Remaja Buddhis Diajak Mengenali Diri dan Menata Mimpi

Sabtu, 24 Oktober 2026
Kategori : Berita

Banten (Bimas Buddha) —Setiap remaja memiliki mimpi tentang masa depannya. Ada yang ingin melanjutkan pendidikan, meraih cita-cita, dan kelak juga persiapkan untuk membangun kehidupan yang bahagia bersama orang-orang yang dikasihi. Namun, di balik setiap impian, ada hal yang kerap terlupakan mengenali diri sendiri sebelum menentukan arah perjalanan.

Bagaimana mengelola emosi ketika menghadapi masalah? Bagaimana membangun pertemanan yang sehat? Dan, kapan seseorang benar-benar siap membangun rencana dan mengambil keputusan besar dalam hidupnya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi bagian penting dalam kegiatan Bimbingan Pra Perkawinan Agama Buddha bagi Remaja Usia Sekolah di Institut Agama Buddha Negeri (IABN) Sriwijaya Tangerang, Banten, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini mengajak remaja memahami bahwa mempersiapkan kehidupan, bukan sekadar berbicara tentang pernikahan, melainkan juga tentang kedewasaan, kesehatan mental, tanggung jawab, dan kemampuan merencanakan masa depan.

Bagi Keane Aland Nienander dan Kaira Celestyn Wijaya dari SMAS Ekayana Ehipassiko School BSD, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

"Acara sangat bermanfaat dan kreatif, kami belajar hal baru, materi yang berguna untuk kehidupan sehari-hari, bisa berinteraksi dengan teman baru, belajar tentang kesehatan mental, cara siapkan masa depan,  siap terlebih dahulu dengan diri, baru dapat menjalin hubungan dengan yang lain dan juga menggapai impian"

Kesadaran untuk memahami diri menjadi bekal penting pada masa remaja. Sebab, sebelum mampu membangun komunikasi, hubungan yang sehat dengan orang lain, seseorang perlu belajar mengenali perasaannya, menghargai batasan diri, serta memahami konsekuensi dari setiap keputusan.

Cinta Dhuita Srimaya dan Sugiarto Gouwtama Gani dari SMK Bonavita juga mendapatkan pemahaman baru mengenai karakter dan pergaulan.

"Kami mendapatkan materi yang banyak, materi baru, terima kasih kepada kakak panitia, kedepan mohon adain lagi, kami juga belajar menjadi remaja yang baik, tentang pergaulan yang baik."

Bukan hanya memperoleh pengetahuan, peserta juga mendapatkan kesempatan memperluas pertemanan dengan sesama remaja Buddhis. Michael Angga Winata dan Paramitha Anuttara dari SMA Atisa Dipamkara I berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan dengan tema yang berbeda.

"Terimakasih karena sudah mengundang kami, acara ini sangat meaningful, banyak hal-hal baru yang dapat kami pelajari. Selain itu, disini kami dapat menemukan banyak teman-teman buddhis yang baru dan bisa berinteraksi dengan mereka. Kedepan saya berharap semoga bisa mengadakan acara yang seperti ini dengan tema yang berbeda."

Cerdas Saja Tidak Cukup

Pengalaman para peserta kegiatan menjadi pengingat bahwa masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Mereka juga membutuhkan kebijaksanaan untuk memilah pilihan, mengendalikan diri, dan mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap diri sendiri dan orang lain.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki pemahaman agama dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

“Dua puluh tahun ke depan, para siswa-siswi inilah yang akan memberikan warna bagi Indonesia. Agar warna yang diberikan benar-benar mencerahkan, generasi muda perlu mempersiapkan diri, baik dari sisi pengetahuan maupun pemahaman agama. Mereka tidak cukup hanya memiliki intelektualitas dan kecerdasan, tetapi juga harus menjadi pribadi yang cendekia, mampu mengimbangi kemampuan berpikir logis dengan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan,” pesan Supriyadi.

Pesan tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi remaja saat ini. Di tengah derasnya informasi, tekanan pergaulan, dan beragam pilihan hidup, kemampuan berpikir perlu disertai kematangan emosional dan pegangan moral. Nilai-nilai Dhamma dapat menjadi landasan untuk melatih kesadaran, menjaga perilaku, mengembangkan kepedulian, serta mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan.

Wasiman, Guru Agama Buddha, berharap pembinaan semacam ini dapat terus dikembangkan agar semakin banyak remaja memperoleh bekal untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

“Kami berterima kasih kepada Ditjen Bimas Buddha dan berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus dikembangkan. Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan semakin memahami pentingnya perkawinan dalam perspektif Agama Buddha. Setelah mengikuti kegiatan ini, semoga mereka mampu menerapkan nilai-nilai sila, samadhi, dan caga dalam kehidupan sehari-hari, serta tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara emosional, bertanggung jawab, dan mandiri dalam menyongsong masa depan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan, khususnya di Provinsi Banten dan juga di provinsi lainnya.”

Mimpi Membutuhkan Proses dan Ketekunan

Mengenali diri merupakan langkah awal. Setelah mengetahui apa yang ingin dicapai, remaja perlu belajar mengubah harapan menjadi tindakan nyata.

Anggi Osyka mengingatkan bahwa waktu perlu dimanfaatkan dengan baik dan mimpi perlu didukung oleh langkah-langkah yang tepat. Dukungan orang-orang terdekat juga penting agar remaja tidak merasa harus menghadapi setiap persoalan seorang diri.

“Manfaatkan setiap detik waktu yang kita miliki secara berharga. Jika ingin memiliki mimpi, lakukan hal-hal yang mendukung untuk mewujudkannya. Jangan lupa komunikasikan mimpi dan rencana kita dengan orang-orang terdekat yang bisa dipercaya seperti orangtua.” Anggi Osyka

Sementara itu, Ni Made Laksmi mengajak remaja menikmati proses pertumbuhan tanpa terburu-buru mengejar tahapan kehidupan. Kesiapan membangun keluarga, menurut pesan yang disampaikannya, perlu disertai kemampuan mengenali diri, menjalin relasi yang sehat, dan memahami tanggung jawab.

“Perjalanan menuju masa depan tidak perlu terburu-buru. Nikmati prosesnya dengan mengenali diri sendiri, membangun relasi yang sehat, serta berani mencari pertolongan bagi diri sendiri maupun orang lain. Menikah bukan hanya tentang cinta, tetapi juga kesiapan dan tanggung jawab. Karena itu, persiapkan diri sejak sekarang untuk menjalani kehidupan berkeluarga dan peran sebagai orangtua.” Ni Made Laksmi

Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan pra perkawinan bagi remaja juga menjadi ruang untuk menumbuhkan pemahaman mengenai kesiapan mental, hubungan yang saling menghargai, dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga. Remaja perlu memahami bahwa keputusan besar tidak seharusnya diambil karena tekanan lingkungan atau dorongan sesaat, tetapi melalui pertimbangan yang matang.

Tony Yoyo menambahkan empat prinsip yang dapat menjadi pegangan dalam mencapai tujuan, yaitu Chanda, Viriya, Citta, dan Vimamsa. Keempatnya menekankan pentingnya niat yang jelas, semangat dan ketekunan, pemusatan pikiran, serta evaluasi untuk memperbaiki langkah yang belum tepat.

"Empat hal yang harus dimiliki dalam menggapai tujuan, Chanda, yaitu niat dan tekad yang kuat serta jelas dalam mencapai tujuan, Viriya, yaitu semangat dan ketekunan yang mendorong usaha untuk mencapai tujuan. Citta, yaitu pemusatan pikiran dan konsentrasi penuh dalam menjalankan usaha. Vimamsa, yaitu kemampuan mengevaluasi hasil secara berkala, memperbaiki kekurangan, dan bekerja secara cerdas."

Masa Depan Dimulai dari Diri Sendiri

Berbagai pesan dalam kegiatan ini bertemu pada satu pemahaman masa depan yang baik tidak terbentuk hanya karena seseorang memiliki mimpi, tetapi karena ia bersedia mempersiapkan diri untuk mewujudkannya.

Remaja membutuhkan pengetahuan untuk memahami dunia, nilai agama sebagai pedoman, serta lingkungan yang mendukung mereka bertumbuh. Mereka juga perlu ruang untuk bertanya, belajar dari pengalaman, dan meminta bantuan ketika menghadapi persoalan.

Melalui pembinaan remaja Buddhis, Ditjen Bimas Buddha mendorong penguatan karakter agar generasi muda tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, mandiri, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai Dhamma diharapkan hadir dalam pilihan sehari-hari, mulai dari menjaga perilaku, menghormati orang lain, hingga membangun hubungan yang sehat.

Pada akhirnya, tidak semua hal dalam hidup harus dicapai dengan terburu-buru. Ada proses yang perlu dinikmati, kekurangan yang perlu diperbaiki, dan keputusan yang perlu dipikirkan dengan bijaksana.

Sebab, sebelum melangkah jauh untuk meraih impian dan membangun kehidupan bersama orang lain, setiap remaja perlu belajar satu hal mendasar yaitu mengenali diri, menata langkah, dan bertumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi masa depan.

 

Dokumentasi : Septian dan Dwiyanametasri


Sumber
:
Humas Bimas Buddha
Penulis
:
Vikka Setiawati AP
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait