Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Sebanyak 240 Mahasiswa Ikuti Seminar Moderasi Beragama

Rabu, 17 Mei 2023
Kategori : Berita

Magelang (Bimas Buddha) ---------- Kegiatan Mahanitiloka Dhamma (MLD) Tingkat Nasional Tahun 2023 diawali dengan Seminar Moderasi Beragama yang diikuti oleh 240 Mahasiswa bertajuk “Upaya Membangun Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Bagi Mahasiswa”, dengan menghadirkan Dosen UIN SMH Banten sekaligus Fasilitator Nasional Moderasi Beragama Abdul Qodir, pada Selasa (16/05/2023).

MLD 2023 mengusung tema KEREN (Kreatif, Edukatif, Responsif, dan Nasionalis) melibatkan 10 Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) Negeri, yakni 2 Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN Sriwijaya Tangerang dan Raden Wijaya Wonogiri), dan 8 Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha Swasta yaitu Sekolah  Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Nalanda, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Maha Prajna, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Jinarakkhita, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Maitreyawira, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Bodhi Dharma.

Dalam kesempatannya Abdul Qodir memaparkan materi tentang Sketsa kehidupan beragama dan moderasi beragama. Poin-poin materi yang disampaikannya meliputi tiga tantangan Indonesia kedepan, Indeks Kerukunan Umat Beragama, Urgensi moderasi beragama, Ekstrimisme di semua agama, Berkembangnya radikalisme, Penguatan Moderasi Beragama, Indeks Moderasi Beragama, dan wujud toleransi di Indonesia.

“Berkembangnya klaim kebenaran subyektif dan pemaksaan kehendak atas tafsir agama serta pengaruh kepentingan ekonomi dan politik berpotensi memicu konflik dikarenakan munculnya tafsir keagamaan tak berdasar keilmuan, klaim kebenaran sepihak dengan paksaan dan kekerasan” ungkapnya.

Lebih lanjut Abdul Qodir menyampaikan bahwa Indonesia masa depan akan didominasi oleh tiga entitas yaitu masyarakat urban, kelas menengah dan milenial. Generasi “Z” Indonesia menganggap agama paling penting. Mereka memiliki karakter melek teknologi, religious, modern dan memiliki daya beli yang tinggi.

“Terdapat 4 hal yang mengganggu toleransi agama yakni pemahaman agama tafsir tunggal, menganggap pendapatnya paling benar, menciptakan wacara us-others dan aksi-aksi yang intoleran,” jelasnya.

Dengan mengutip pernyataan Gusdur, ia menyampaikan tentang hakikat beragama versi Gusdur sesungguhnya bahwa beragama adalah berkeyakinan yang dilandasi dengan berkemanusiaan atau dengan istilah lain sebagai berkebudayaan.

“Moderasi beragama ini sekali lagi yang dimoderasi adalah cara kita beragama dengan orang lain, cara kita mengaplikasikan pemahaman agama kita ketika dalam kehidupan bersama. Kami dari pokja kemenag, titip kepada teman-teman mahasiswa untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi ini dengan 4 indikator moderasi beragama itu kita jaga, kita rawat, dan kita bina. Kita adalah lilin-lilin kecil yang ketika kita gabungkan akan menjadikan suatu cahaya yang melimpah. Semailah moderasi beragama sesuai dengan tupoksi kita masing-masing,” pungkasnya


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait