Jakarta (Bimas Buddha) ——— Roadshow Lokakarya Borobudur di Jakarta pada Rabu (6/5/20206) sebagai bagian rangkaian Ves?kha S?nanda 2570 B.E. yang mengangkat tema “Reinterpreting Borobudur: Hidden Meaning to Living Spiritual Values”, sukses digelar. Kegiatan ini dikemas dengan bertujuan menggali makna mendalam Candi Borobudur dan mengaktualisasikannya sebagai sumber nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Acara yang melibatkan akademisi, tokoh agama, organisasi keagamaan Buddha, serta masyarakat umum tersebut menghadirkan dialog, kajian, dan refleksi untuk menjembatani pemahaman konseptual menjadi praktik nyata. Sebagai rujukan edukatif digunakan buku “Borobudur Agama Buddha” untuk menghubungkan kajian tekstual dengan pemaknaan kontekstual.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pentingnya posisi Borobudur bukan sekadar warisan budaya tetapi juga sebagai sumber nilai spiritual yang hidup dan relevan bagi masyarakat.
“Roadshow Lokakarya Borobudur Jakarta sebagai bagian dari rangkaian Ves?kha Sananda 2570 BE menjadi momentum penting menegaskan kembali posisi Candi Borobudur bukan hanya sebagai warisan budaya tapi juga sebagai sumber nilai spiritual yang hidup dan relevan bagi masyarakat,” ujarnya melalui rekaman video.
Hadir secara langsung, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menekankan bahwa Borobudur perlu dipahami lebih dari bentuk fisik. Candi itu merupakan representasi perjalanan batin menuju kebijaksanaan. Nilai-nilai dalam Borobudur mencerminkan pengendalian diri, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup yang tetap relevan menghadapi dinamika zaman.

“Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang berdiri kokoh, melainkan sebuah ‘kitab yang dipahat’. Setiap reliefnya mengajak kita untuk merenung, melihat ke dalam diri, dan menapaki jalan menuju kebijaksanaan,” ujar Menag.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, berharap kegiatan ini memberi dampak langsung bagi masyarakat, tidak hanya sebagai peringatan religius tetapi juga sebagai media revitalisasi nilai-nilai budaya.

“Semoga kegiatan kita hari ini memberikan makna bahwa agama tidak hanya semata, tapi agama dijadikan sebagai pedoman dan kita wujudkan dalam kehidupan sehingga bermakna. Buat diri sendiri, buat masyarakat, buat bangsa negara, dan buat alam semesta ,” kata Supriyadi.
Dr. Hudaya Kandahjaya selaku narasumber dalam lokakarya ini, memaparkan perkembangan ajaran Buddha yang tercermin dalam Borobudur. Ia optimis penelitian terus membuka wawasan baru mengenai alasan pembangunan dan bentuk Borobudur sehingga pesan-pesan yang terkandung dapat bermanfaat bagi umat Buddha maupun masyarakat luas.

“Kita mulai lebih banyak mengenal apa yang berkembang di Borobudur, mengetahui alasan-alasan mengapa Borobudur dibangun dan mengapa bentuknya seperti itu. Harapannya kedepan cerita-cerita pengenalan ini? Selain umat Buddha, tentu semua masyarakat di Indonesia maupun di luar negeri semua bisa menyadari sumbangan dari para pencipta Borobudur dan agar pesan-pesan mereka itu berguna buat kehidupan semua yang ada di dunia ini,” ujar Hudaya.
Selain itu, Hudaya juga mengatakan bahwa Borobudur memiliki karakter bersifat universal sehingga siapa pun, terlepas dari latar belakang spiritual, dapat memperoleh manfaat dari ajaran dan simbolisme yang ada.
Kegiatan ini dihadiri berbagai perwakilan lintas institusi, antara lain Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Dirjen Pendis, Dirjen Bimas Islam, Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha, Rektor Institut Nalanda, serta perwakilan WALUBI dan Permabudhi.
Menjelang peringatan Hari Waisak, lokakarya ini juga dimaknai sebagai penguatan ajaran Dharma serta ajakan untuk memperdalam nilai-nilai kebijaksanaan, kasih sayang, pengendalian diri, toleransi, persatuan, dan kedamaian dalam masyarakat yang majemuk.
Kontributor: Vividha Jati Ariya Gotami