Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

PERGABI Rayakan Waisak Bersama Pelajar Buddhis Nusantara.

Jumat, 27 Mei 2022
Kategori : Berita

Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) bersama Pelajar Buddhis Nusantara selenggarakan peringatan Waisak 2566 BE, secara daring dan luring, Jumat (27/05).

Plt. Dirjen Bimas Buddha Nyoman Suriadarma yang hadir secara luring menyampaikan  waisak tahun ini sangat semarak.

“Kalau kita perhatikan dari tanggal 16 yang lalu pelaksanaan berjalan sangat baik mulai dari Candi Borobudur, Candi Pawon dan candi-candi lain dilaksanakan dengan nikmat dengan kebersamaan, peringatan waisak juga ada di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Lampung,” uangkapnya.

Menurut Nyoman tiga peristiwa yang tergambarkan dalam peringatan waisak yakni kelahiran, perjuangan untuk mencapai kesempurnaan itu adalah sebuah proses panjang seorang manusia untuk berjuang membebaskan diri dari penderitaan setelah dapat membebaskan beliau pun mengajarkan Dharma kepada kita.

Lebih lanjut Plt. Dirjen menyampaikan setelah kesepakatan pendandatangan Candi Borobudur sebagai pusat kepentingan umat Budha Indonesia dan dunia oleh empat Menteri dan dua Gubernur, saya selalu mendukung kegiatan-kegiatan positif tentang Borobudur  ini artinya memberi ruang seluas-luasnya untuk umat Buddha di tanah air bahkan umat Buddha dunia.

Pelajar dapat menjalin komunitas yang harmonis baik sesama pelajar sesama komunitas Buddhis dan tingkatkan rasa bakti kita pengabdian kita sebagai putra-putri bagi orang tua kita bagi bangsa kita bagi negara kita.  

Ketua Umum Persatuan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) Sukiman menyampaikan perayaan waisak ini kami anggap sebagai salah satu kegiatan strategis untuk menjalin komunikasi dan menumbuhkan kepedulian antar unsur-unsur tersebut serta menumbuhkan kebanggaan sebagai guru pendidikan agama Buddha kebanggaan sebagai pelajar Buddhis dan kebanggaan sebagai umat Buddha.

“Waisak mengingatkan kita tentang semangat perjuangan Bodisatwa Sidharta Gautama dalam mencapai dan mengajarkan dharma perjuangan yang bukan hanya untuk diri sendiri tetapi perjuangan untuk menemukan jalan bagi kebahagiaan semua makhluk perjuangan untuk memerdekakan semua makhluk dari penderitaan semangat perjuangan inilah yang tentu saja sangat penting untuk kita teladani dalam konteks kehidupan kita saat ini,” tuturnya.

Sukiman menambahkan guru pendidikan agama Budha harus berjuang untuk menjadi yang terbaik dan terdepan di tempat tugasnya masing-masing dapat menyingkirkan rasa minder dan merasa kecil atau minoritas di sekolah dengan menunjukkan kinerja yang maksimal merdeka untuk memerdekakan guru pendidikan agama Buddha harus menjadikan siswa-siswanya pelajar Buddhis yang tangguh.

Pelajar Buddhis nusantara tahun ke depan dapat menyelenggarakan waisak bersama dan juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan lain di Candi Borobudur yang tentu saja dengan alas kaki kami yang sudah representasi, harapnya.

YM. Bhante Dhammasubho Mahathera dalam Dhammadesana menyampaikan pentingnya perlindingan kepada Buddha, Dharma dan sangha.

“Pesan yang dibawakan oleh sang Buddha itulah namanya dhamma  jadi kalau budaya itu ilmu,  dhamma  itu pesan-pesannya, pernyataannya, stepment-nya kemudian sangha itu adalah tanggung jawab dari apa yang dipikirkan dan itulah yang dikatakan maka sangha itu menyangga bertanggung jawab kemana-mana tentang keutuhan dan berkelangsungan dharma dari ajaran Sang Buddha,” jelasnya.

Buddha, dharma dan sangha itu sama dengan ilmu pengetahuan dan tindakan nyata, kalau kita berlindung kepada Buddha sama dengan Buddha  itu ilmu adanya di pikiran, dhamma  itu pernyataan adanya pada ucapan,  sangha itu tindakan adanya pada perbuatan, jadi kalau berlindung pada Buddha Dharma Sangha artinya pada pikiran ucapan dan perbuatan sendiri        

Pada zamannya sang Buddha itu dinyatakan sebagai guru para dewa dan manusia juga pemimpin seluruh alam semesta karena itu pesan-pesannya adalah lengkap bagi negara sang Buddha menyatakan negara yang utuh apabila bangsanya tidak melupakan sejarah nasional kalau rakyatnya tidak meninggalkan sastra budaya nasional dan pemimpin-pemimpinnya lalu berbuat jahat takut akan akibatnya

Selanjutnya menurut Bhante ada lima sabuk pengikat bangsa dan negara di Republik Indonesia

  1. Indonesia memiliki Idiologi Nasional yaitu Pancasila
  2. Indonesia memiliki kebangsan yaitu Bangsa Indonesia
  3. Indonesia memiliki Bahasa Nasional yaitu Bahasa Indonesia
  4. Indonesia memiliki budaya nasional yaitu budaya kearifan lokal
  5. Indonesia memiliki budaya taat spiritual bentuknya prihatin, tirakat (pengendalian diri).

Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait