Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Peluk Indonesia, Gerakan Nyata Rawat Kebhinekaan dan Toleransi

Minggu, 10 Mei 2026
Kategori : Berita

Denpasar (Bimas Buddha) ---- Dalam mendukung penguatan kerukunan antarumat beragama, Kementerian Agama terus memperkuat gerakan moderasi beragama melalui pendekatan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui peluncuran program “Peluk Indonesia: Beda Iman Saling Menguatkan” yang bersinergi dengan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan di Vihara Buddha Sakyamuni, Sabtu (9/5/2026).

Program “Peluk Indonesia: Beda Iman Saling Menguatkan” hadir bukan sebagai ajang seremonial belaka, melainkan sebagai komitmen nyata untuk merawat kebhinekaan serta sebuah gerakan moral untuk menjawab tantangan polarisasi sosial dan intoleransi digital yang mulai menggejala.

Dalam kesempatan hadir di Pulau Dewata, Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, KH. Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah, menegaskan bahwa pemilihan Bali sebagai lokasi peluncuran karena Bali adalah cermin keadilan Tuhan bagi Indonesia. Ia menekankan bahwa filosofi "Peluk" mengandung makna mendalam tentang penerimaan, perlindungan, dan kasih sayang.

"Indonesia terlalu indah untuk dibenci. Kita harus bergerak dari sekadar destinasi wisata dunia menuju destinasi moderasi dan toleransi dunia. Peluk Indonesia adalah gerakan untuk merawat kebhinekaan, menyemai kerukunan, menguatkan persaudaraan, dan membangun kemanusiaan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa musuh bangsa saat ini bukanlah agresi militer, melainkan upaya membenturkan sesama anak bangsa melalui isu keyakinan dan intoleransi digital.

Gus Miftah menambahkan bahwa program ini juga bertujuan menjadikan Bali bukan hanya destinasi wisata dunia, tetapi destinasi moderasi dunia. “Wisata terbaik bukan hanya yang memanjakan mata melalui keindahan alam, tetapi yang memanjakan hati melalui kerukunan masyarakatnya,” tegasnya.

Kegiatan yang dihadiri tokoh lintas iman ini menjadi momentum krusial untuk mentransformasi moderasi beragama dari sekadar wacana menjadi aksi nyata yang humanis.

Sementara Wakil Menteri Agama RI, KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga sumber daya alam dan keutuhan bangsa melalui kerukunan. "Bangsa ini adalah bangsa yang besar dengan kekayaan alam luar biasa. Kita harus menjaga stabilitas dan persatuan agar tidak ada ruang bagi pihak luar untuk memecah belah kita demi kepentingan tertentu," tutur Wamenag.

Kegiatan ditutup dengan Deklarasi Peluk Indonesia oleh seluruh tokoh dan masyarakat yang hadir, sebagai janji untuk menjaga negeri dari kebencian dan mempercayai bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan ancaman. Melalui "Peluk Indonesia", diharapkan generasi muda tidak mudah terprovokasi dan menjadi garda terdepan penjaga keutuhan NKRI demi tercapainya visi Indonesia Emas 2045.

Turut dalam acara diantaranya Tenaga Ahli Menteri Agama, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi, Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, Nurudin, Pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong, Kabag TU Kemenag Provinsi Bali, Pembimas Buddha, serta para tokoh lintas agama dan masyarakat lintas iman.

Program Peluk Indonesia di Bali diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat semangat kebangsaan, toleransi, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Kementerian Agama menilai bahwa keterlibatan tokoh lintas agama dalam gerakan ini menjadi bukti bahwa harmoni Indonesia dapat terus dirawat melalui kolaborasi, dialog, dan aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.


Sumber
:
Humas Kanwil Kemenag Prov. Bali
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait