Magelang (Bimas Buddha) — Pagelaran Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2570/2026 tidak hanya menghadirkan rangkaian pembacaan Tipitaka dan prosesi keagamaan, tetapi juga menampilkan warisan seni, budaya, dan nilai-nilai kebajikan melalui empat Kereta Kencana yang akan digunakan dalam rangkaian kegiatan.
Ada empat Kereta Kencana dalam penyelenggaraan Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) tersebut yakni Kereta Kencana Mahadhatu, Kereta Kencana Tipitaka, Kereta Kencana Dhammacakka, dan Kereta Kencana Stambha Vijaya. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai ajaran Buddha melalui simbol, karya seni, serta kekayaan budaya yang dapat dipahami dan diapresiasi oleh masyarakat luas.
Salah satu kereta yang memiliki makna mendalam adalah Kereta Kencana Mahadhatu. Kereta berbahan logam dengan bobot sekitar 2,5 ton ini dirancang khusus oleh Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera dan dibuat oleh Sanggar Nakula Sadewa di bawah supervisi I Nyoman Alim Mustapha. Kereta ini digunakan untuk membawa Mahadhatu atau Relik Agung Buddha Gotama dalam prosesi dari Vihara Mendut menuju Candi Borobudur pada perayaan SAsalha Mahapuja
.jpg)
Keistimewaan Kereta Kencana Mahadhatu tampak pada ragam hias dan relief Jataka yang terinspirasi dari relief Candi Borobudur. Relief tersebut antara lain Mora Jataka, Vassaka Jataka, Sasa Jataka, dan Vessantara Jataka. Setiap kisah membawa pesan kebajikan yang relevan dengan kehidupan, mulai dari keteguhan tekad dan kekuatan kebenaran, ketenangan batin, hingga ketulusan pengorbanan dan puncak kedermawaan bagi sesama.
Dengan demikian, kehadiran Kereta Kencana Mahadhatu tidak hanya menjadi bagian dari prosesi keagamaan, tetapi juga menjadi media edukasi yang mengajak masyarakat mengenal kembali kisah-kisah Jataka serta nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya.
Kereta Kencana Tipitaka menjadi simbol penting dalam prosesi membawa Kitab Suci Tipitaka dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Kereta berwarna keemasan ini dirancang oleh Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera dan dibuat oleh Sanggar Nakula Sadewa, Magelang.
Desainnya memadukan unsur budaya nasional yang terinspirasi dari candi-candi di Indonesia dengan unsur budaya Buddhis dari berbagai negara ASEAN. Perpaduan tersebut merepresentasikan bahwa ajaran Buddha berkembang dalam keberagaman budaya, sekaligus memperkuat semangat persaudaraan dan harmoni di kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu, Kereta Kencana Dhammacakka menampilkan simbol roda Dhamma berjari-jari 12 yang diapit sepasang kijang. Simbol tersebut mengingatkan pada peristiwa pembabaran Dhamma pertama oleh Buddha Gotama di Taman Kijang Isipatana, Sarnath, India.

Dua belas jari-jari Dhammacakka menggambarkan penjabaran Empat Kebenaran Ariya dalam tiga aspek. Pesan yang disampaikan melalui simbol ini mengingatkan bahwa Dhamma tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi perlu dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun Kereta Kencana Stambha Vijaya, yang berarti Pilar Wijaya, terinspirasi dari Pilar-Pilar Asoka. Salah satu maklumat yang ditampilkan berkaitan dengan kerukunan umat beragama. Kehadirannya menjadi pengingat akan pentingnya kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Penggunaan simbol burung merak atau mayura dan mora juga memiliki keterkaitan dengan sejarah Dinasti Maurya pada masa Raja Asoka serta kisah kehidupan lampau Bodhisattva Siddharta.
Keempat Kereta Kencana tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian dan pengembangan ajaran Buddha dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya. Melalui perpaduan seni, sejarah, simbol keagamaan, dan nilai-nilai kebajikan, masyarakat tidak hanya dapat menyaksikan sebuah prosesi, tetapi juga memperoleh ruang untuk belajar dan memahami pesan-pesan kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Bhante Sri Subhapanno Mahathera menyebut bahwa keempat Kereta Kencana tersebut nantinya akan menjadi bagian dari prosesi kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. “Rangkaian kereta tersebut diiringi oleh para bhikkhu, samanera, atthasilani, pandita, peserta Indonesia Tipitaka Chanting (ITC), serta umat Buddha menjadi simbol penghormatan terhadap ajaran, peninggalan suci, dan nilai-nilai luhur Buddha yang terus dijaga serta diwariskan kepada generasi penerus. Prosesi berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebersamaan,” sebutnya.
Kontributor :
Narasi: Dwiyana Mettasari
Dokumentasi: Charlie Ariya Bodhi Sutrisno