Jakarta (Bimas Buddha) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha melalui Subdit Penyuluhan menggelar Rapat Evaluasi dan Penguatan Kinerja Penyuluh Agama Buddha Tahun 2025. Kegiatan yang dihadiri para Pembimbing Masyarakat Buddha (Pembimas), Kepala Seksi (Kasi), Penyelenggara, serta penyuluh dari berbagai daerah ini menjadi momentum penting untuk meninjau capaian program penyuluhan sekaligus merumuskan arah kebijakan strategis ke depan.
Mewakili Dirjen Bimas Buddha, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Nyoman Suriadarma, mengatakan rapat evaluasi ini bertujuan menguatkan kinerja penyuluh sekaligus melakukan mekanisme verifikasi atas realisasi program selama satu tahun berjalan. Menurutnya, masih ada sejumlah isu krusial dalam masyarakat Buddha yang perlu ditangani secara lebih komprehensif.
Dalam kesempatan yang sama, Nyoman menyoroti kondisi kesejahteraan umat Buddha yang meskipun secara umum tampak membaik, namun di lapangan masih terdapat keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk itu, para penyuluh mendapat mandat melakukan pemetaan kondisi sosial-ekonomi umat hingga tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan.
"Pemetaan ini akan menjadi instrumen penting yang dapat dimanfaatkan oleh sembilan lembaga dana untuk mengintervensi dan memberdayakan umat. Pembinaan akan kita lakukan, tetapi indikatornya harus jelas. Ketimpangan yang ada di masyarakat perlu diidentifikasi dengan tepat agar intervensi yang dilakukan benar-benar efektif," tegasnya di Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Direktur juga mendorong peningkatan kualitas pendidikan bagi generasi muda umat Buddha. Ia menyebut salah satu yayasan telah mulai memberikan dukungan bagi anak-anak Buddha yang ingin melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Langkah ini diharapkan menjadi gerakan bersama untuk memajukan sumber daya manusia umat Buddha.
Dalam upaya memperkuat peran penyuluh, Nyoman menggaungkan tema "Penyuluh Hebat Hadir di Tengah Umat". Dirurpendik menegaskan bahwa penyuluh diharapkan menjadi penggerak, pendamping, dan problem-solver bagi berbagai persoalan keumatan, dengan pendekatan berbasis rumah ibadah atau kelompok binaan.
"Tugas utama penyuluh bukan hanya menyampaikan Dhamma, tetapi juga membimbing dan mengarahkan umat dalam aspek spiritual, sosial, dan ekonomi. Penyuluh adalah ujung tombak yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat," tambahnya.
Melalui rapat evaluasi ini, Bimas Buddha berharap para penyuluh semakin siap menjalankan peran strategis dalam memperkuat ketahanan umat, meningkatkan kesejahteraan, dan mendorong kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Kontributor: Dwiyana Mettasari