Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Melampaui Sekat Perbedaan, Halaman Gereja Jadi Sekretariat Asadha Mahapuja

Minggu, 26 Juli 2026
Kategori : Berita

Magelang (Bimas Buddha) — Halaman Gereja Katolik Bunda Maria Sapta Duka di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Minggu (26/7/2026), tampak berbeda dari biasanya. Bukan umat Katolik yang memadati halaman gereja, melainkan ribuan umat Buddha dari berbagai daerah yang datang untuk mengikuti rangkaian Perayaan Asadha Mahapuja 2570 BE/2026.

Halaman gereja tersebut difungsikan sebagai Kantor Sekretariat dan Registrasi Asadha Mahapuja 2570 BE/2026. Dari lokasi ini, panitia melayani registrasi peserta kirab, pendataan, serta memberikan berbagai informasi teknis guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman, dan lancar.

Pemanfaatan halaman gereja sebagai pusat registrasi bukanlah kali pertama dilakukan. Kerja sama antara panitia Asadha Mahapuja dengan pengelola Gereja Katolik Bunda Maria Sapta Duka telah terjalin selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari semangat saling mendukung dalam penyelenggaraan hari besar keagamaan.

Koordinator Sekretariat, Bhikkhu Abhiseno, menyampaikan bahwa penggunaan halaman gereja tersebut merupakan bentuk nyata harmoni yang terus dirawat bersama. Menurutnya, setiap tahun gereja dengan terbuka memberikan dukungan dengan menyediakan ruang bagi panitia untuk melayani para peserta Asadha Mahapuja.

"Ini bukan tahun pertama kami menggunakan halaman gereja sebagai tempat registrasi. Hampir setiap tahun kami bekerja sama, dan hal ini menunjukkan semangat saling mendukung, khususnya dalam penyelenggaraan hari besar agama Buddha. Inilah wujud kerukunan antarumat beragama yang patut kita jaga dan junjung tinggi bersama," ujarnya.

Rangkaian perayaan Asadha Mahapuja tahun ini diawali dengan Kirab Asadha yang diikuti ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru Indonesia. Tepat pada pukul 13.00 WIB, peserta memulai perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur ajaran Buddha.

Di tengah langkah ribuan peserta menuju Borobudur, dari halaman sebuah gereja meamcarkan pesan bahwa kerukunan di tengah perbedaan. Kerukunan yang sejak dahulu telah terawat dengan baik hingga kini. Hal ini menjadi bukti sekaligus semakin menguatkan bahwa harmoni lintas iman merupakan kekuatan sesungguhnya dari keberagaman di Indonesia.


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
A Wardiyanto
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait