Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Lukman Hakim Saifuddin Kupas Tuntas Moderasi Beragama dengan Mahasiswa.

Kamis, 02 Juni 2022
Kategori : Berita

Jakarta (Humas Buddha)  -------------------  Pelaksanaan Mahanitiloka Dhamma tahun 2022 dengan mengusung tema “MANTAP” Mahanitiloka Dhamma tahun ini, diharapkan mahasiswa dapat mengimplementasikan sikap "Mandiri, Toleransi, Akademis, dan Progresif" ini menjadi topik pembahasan pada Talk Show bersama DR. H.C. Lukman Hakim Saifuddin.

“Tema yang diangkat oleh panitia Mahanitiloka Dharma tingkat nasional Tahun 2022 yang ditujukan kepada saya. untuk berbicara toleransi dalam perspektif moderasi beragama sangat relevan dan urgen jadi memiliki tingkat relevansi dan urgensi yang tinggi tema tentang toleransi ini adalah sesuatu yang tidak bisa tidak dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia,” ungkap Lukman secara daring. 

Di depan peserta Lukman Hakim memberi pemahaman tentang pandangan mahasiswa, menurutnya mahasiswa adalah pewaris Indonesia.  

“Jadi saya, ingin berangkat dari diri kita sendiri.  Sebagai mahasiswa dalam pandangan saya dan tentu pandangan banyak orang mahasiswa itu hakekatnya adalah pewaris Indonesia pewarisan Indonesia. Mengapa ?    Karena mahasiswa adalah sekumpulan sekelompok atau bagian tertentu dari masyarakat Indonesia yang sangat besar ini dari sisi populasi mungkin sekarang jumlahnya bisa mencapai 280-an juta penduduk Indonesia.

Lukman menambahkan mahasiswa adalah sekelompok masyarakat Indonesia yang terdidik yang memiliki basis ilmu pengetahuan karena telah menjalani proses pendidikan secara formal secara lebih terstruktur secara lebih terpola jadi ini segmentasi yang ada di masyarakat bagian yang ada di masyarakat yang dinilai terdidik dan karenanya dia merupakan pewarisan dari Indonesia.

“Tentu sebagai pewaris Indonesia kita pun juga harus menemukan dan mengidentifikasi dengan baik apa yang menjadi ciri dari Indonesia ini tentu banyak cirinya tapi saya ingin mengedepankan dua hal yang utama yang memiliki konteks yang memiliki keterkaitan dengan tema kita pada pagi hari ini jadi ciri Indonesia yang sangat menonjol itu antara lain adalah kemajemukannya,  Saya sering menggunakan kata keberagamannya kita itu sangat beragam sangat majemuk sangat heterogen yang hampir semua aspek kehidupan kita bangsa Indonesia apalagi etnisnya, apalagi suku bangsanya apalagi budaya yang berkembang pada masyarakatnya bahasa yang digunakan termasuk juga agama yang dianut oleh bangsa yang sangat besar ini,” jelasnya.

Menurutnya ciri keberagaman dan ciri kemajemukan Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang sangat agamis jadi kalau kita bandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia nyaris tidak ada bangsa yang memiliki ikatan sedemikian kuatnya dengan nilai-nilai keagamaan dalam menjalani aktivitas kesehariannya,  jadi bangsa ini mau melakukan apa saja itu selalu terkait dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai agama itu tidak hanya menjadi dasar landasan bagi kita warga negara ketika ingin melakukan aktivitas apapun yang ingin dilakukannya itu selalu bertumpu pada nilai-nilai agama tapi juga nilai-nilai agama itu sebagai arah orientasi kemana kita akan menuju untuk capaian-capaian atau tujuan-tujuan apa saja itu selalu juga terkait dengan nilai-nilai agama jadi agama begitu melekat pada diri bangsa.

Menjelaskan tentang tolerasi Lukman berpandangan toleransi itu adalah kemauan dan kemampuan jadi ada dua kata kunci adalah kemauan dan kemampuan pada diri kita untuk menghargai dan menghormati perbedaan yang ada

Nah …..  pertanyaannya  apa toleransi itu ?  “Toleransi memiliki definisi pengertian yang tentu beragam tapi diantara beragam-ragam pengertian tentang toleransi semuanya bermuara pada satu hal yang sama yaitu bahwa sesungguhnya toleransi itu adalah kemauan dan kemampuan pada diri kita untuk menghargai dan menghormati perbedaan yang ada pada pihak lain jadi kita mau menghormati dan kita mampu karena tidak semua orang yang memiliki kemauan itu punya kemampuan atau sebaliknya orang yang mampu belum tentu dia mau melaksanakan kemampuannya. Jadi toleransi adalah kemauan dan kemampuan kita untuk bisa menghargai dan menghormati perbedaan yang ada pada pihak lain perbedaan dalam semua hal ini kita dalam hidup berbangsa dan bernegara,” tuturnya.

Tingkatan toleransi menurut Lukman dapat kita dicontohkan menyajikan makanan makanan yang pedas untuk teman-temanya.

“Tingkatan yang paling tinggi dalam toleransi ini adalah ketika kita mau bekerja sama dengan yang berbeda bekerja sama jadi kalau ada makan bareng begitu meskipun saya tidak suka pedas tapi saya akan membuat masakan yang pedas semata-mata demi teman-teman saya, meskipun saya tidak suka pedas, saya mau kooperatif, mau bekerja sama memfasilitasi,  melayani mereka bukan berarti lalu kemudian saya luntur selera saya lalu kemudian saya menjadi suka pedas, tidak juga saya tetap memegangi prinsip bahwa makanan yang paling enak itu makanan yang tidak pedas karena memang saya tidak suka pedas, tapi saya bersedia melayani bekerja sama dengan teman-teman yang suka pedas lalu kemudian saya membuat masakan bersama masakannya jadi iman itu juga begitu saya seorang muslim tapi lalu kemudian bukan berarti kalau saya melayani saudara-saudara saya yang Kristiani yang Hindu yang Konghucu dan seterusnya lalu kemudian menggerus keimanan saya malah justru sebaliknya seorang Buddhis kemudian bisa bekerja sama dengan sesama saudaranya yang berbeda keimanan sekalipun dengan dirinya mungkin dia Kristiani mungkin dia muslim mungkin dia Hindu Konghucu dan seterusnya itu tidak lalu kemudian berarti kebudayaannya sebagai seorang mudik itu lalu luntur dia tetap kokoh dan memegangi ajaran itu secara baik begitu dan mampu membangun toleransi,” tambahnya.

Setelah memberikan pemahaman tentang moderasi beragama Lukman Hakim Saifuddin menyimpulkan bahwa membangun toleransi itu harus diikhtiarkan harus diupayakan, maka dalam menyikapi perbedaan mari kita menghargai dan menghormati perbedaan yang ada.

“Ya kita harus membangun toleransi itu harus diikhtiarkan harus diupayakan harus diusahakan ini sesuatu yang dinamis, ini adalah cara pandang kita menyikapi perbedaan maka dalam menyikapi perbedaan,  mari kita menghargai dan menghormati perbedaan yang ada pada pihak lain bagaimana caranya, melalui pendidikan dan itu harus ditanamkan bahwa keragaman itu adalah sesuatu yang tidak perlu dihindari,” harapnya.

Jadi untuk bisa menjadi toleran tidak ada pilihan lain kita harus memperluas wawasan ilmu pengetahuan kita bahwa kebenaran itu bisa ada di mana-mana dan yang berbeda dengan kita bukan berarti mereka itu salah,  bukan berarti mereka otomatis salah boleh jadi dia salah tapi mari kita hargai,  kita hormati,  perbedaan itu tanpa harus mengikis mereduksi menghilangkan memperlemah tapi yang sudah kita yakini,  yang tidak sama dengan keyakinan lain, jadi dengan cara seperti itulah maka di Indonesiaan kita yang majemuk ini akan tetap bisa kita jaga dan kita pelihara dengan baik.


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait