Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Lokakarya Borobudur Tekankan Dimensi Spiritual dan Pemahaman Dharma

Selasa, 26 Mei 2026
Kategori : Berita

Wonogiri Bimas Buddha) — Sivitas Akademika Sekolah Tinggi Agama Buddha (STABN) Raden Wijaya Wonogiri mengikuti Lokakarya Borobudur, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Vesakha Sananda menyambut peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E/2026 pada pada Kamis (21/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini bertujuan memperdalam pemahaman terhadap Candi Borobudur sebagai warisan luhur bangsa, pusat pembelajaran Dharma, serta sumber nilai-nilai spiritual yang relevan bagi kehidupan masa kini.

Dalam kesempatan hadir sebagai narasumber Dr. Hudaya Kandahjaya menyampaikan berbagai pandangan atau perspektif historis, arkeologis, dan keagamaan. Ia mengajak peserta untuk meninjau kembali sejumlah pemahaman yang selama ini berkembang mengenai Borobudur.

Dr. Hudaya Kandahjaya menegaskan bahwa ajaran Buddha tidak memisahkan kehidupan duniawi dan spiritual. Menurutnya, seluruh aktivitas kehidupan dapat menjadi bagian dari praktik spiritual serta nilai-nilai Dharma tidak hanya hadir dalam konsep sastra, melainkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pokok bahasan yang mendapat perhatian peserta adalah pemahaman mengenai struktur dan fungsi Borobudur. Dr. Hudaya menjelaskan bahwa Borobudur tidak hanya dapat dipahami sebagai bangunan monumental atau simbol semata, tetapi juga memiliki dimensi ritual dan spiritual yang sangat mendalam. Ia menguraikan bahwa bagian teras melingkar di puncak Borobudur merupakan kawasan yang secara tradisional dipandang sakral dan layak dihormati sebagai kediaman para Buddha.

Menurutnya, pada masa lalu kawasan tersebut kemungkinan memiliki fungsi yang berkaitan dengan praktik inisiasi dan kegiatan keagamaan tertentu. Karena itu, pemahaman terhadap Borobudur perlu ditempatkan dalam konteks tradisi Buddhis yang melatarbelakangi pembangunannya, bukan semata-mata melalui perspektif modern sebagai objek wisata atau peninggalan arkeologis.

Ia juga menyoroti berbagai kesalahkaprahan yang masih berkembang terkait makna Borobudur. Ia menjelaskan bahwa Borobudur dapat dipahami sebagai representasi Buddha yang istimewa dan utuh, sehingga memiliki kedudukan yang sangat luhur dalam tradisi Buddhis. Pemahaman ini mengajak umat untuk melihat Borobudur bukan sekadar sebagai latar kegiatan keagamaan, melainkan sebagai simbol spiritual yang mengandung pesan mendalam dari para mahacarya yang merancang dan membangunnya pada masa lampau.

Selain meluruskan berbagai pemahaman yang kurang tepat, lokakarya ini juga mengajak peserta untuk melihat Borobudur sebagai warisan hidup yang tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga memiliki fungsi spiritual yang terus relevan hingga saat ini. Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak untuk mengembangkan penghormatan yang lebih mendalam terhadap Borobudur sebagai mahakarya peradaban Buddhis Indonesia.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gedung Adinata ini diikuti oleh 75 peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa STAB Negeri Raden Wijaya Wonogiri. Selain berlangsung secara luring, kegiatan juga disiarkan melalui kanal YouTube resmi STAB Negeri Raden Wijaya sehingga dapat diikuti oleh masyarakat luas.

 

Kotributor: Humas STABN Raden Wijaya


Sumber
:
Humas STABN Raden Wijaya
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait