Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Giat Moderasi Beragama melalui Pemuda Lintas Agama

Sabtu, 04 Juni 2022
Kategori : Berita

Magelang (Humas Buddha) ------------------- Dalam upaya meningkatkan kerukunan antar pemuda lintas agama dan penguatan moderasi beragama bagi pemuda di Provinsi Jawa Tengah Ditjen Bimas Buddha selenggarakan Sosialisasi Pemanfaatan Candi Borobudur untuk keagamaan, Sabtu (04/06).

Pelaksanaan kegiatan bertempat di gedung serba guna Candi Mendut dengan mengundang 50 pemuda lintas agama, menghadirkan Y.M Bhante Sri Pannavaro Mahathera dan narasuber lainnya.

Bhante Sri Pannavaro yang lebih akrab dengan sebutan Bhante Panna menyampaikan tentang Disrupsi yang merupakan sifat universal dari alam, segala sesuatu yang terbentuk di alam semesta.     

“Disrupsi adalah hasil inovasi bukan terjadi dengan sendirinya yang membawa perubahan mendasar ini berbeda dengan perubahan alami yang di dalam istilah agama Buddha bisa dikatakan (anicca) perubahan yang merupakan sifat universal dari alam semesta ini segala sesuatu yang terbentuk di alam semesta ini selain yang tidak terbentuk yang tiap-tiap agama mempunyai istilah yang berbeda-beda,” jelas Bhante Sabtu (04/06). 

Bhante menyontohkan pola Disrupsi dalam kehidupan manusia, kita semua dilahirkan tumbuh menjadi dewasa terkena sakit meninggal dunia, pergantian musim ini perubahan yang tidak bisa dihindari tetapi juga ada perubahan yang di grade (tingkat) inovasi manusia dan perubahan yang dibuat oleh manusia itu bisa destruktif (merusak) bisa konstruktif (membangun) bisa baik untuk kemanusiaan kemasyarakatan bisa sangat buruk termasuk perkembangan teknologi yang pesat itu membuat perubahan baru dan perubahan itu tidak tanggung-tanggung, perubahan yang mendasar dalam periode kehidupan umat manusia.

“Kita juga selalu menghargai semua kehidupan menerima perbedaan, menghargai memelihara lingkungan, kita tidak mungkin hidup sendiri besar sendiri senang sendiri menikmati kenikmatan sendiri, oleh karena itu tidak ada alasan kita untuk memusuhi, menghancurkan yang lain merusak lingkungan karena lingkungan itu nanti imbasnya kepada kita bukan hanya kepada yang lain,”pesannnya.

Menurut Bhante dalam kehidupan kita harus menerima menghargai perbedaan dan mencintai kehidupan seperti ajaran seorang pujangga besar Mpu Tantular.

“Mencintai kehidupan rasanya itu ajaran semua agama seorang pujangga besar Buddhis Empu Tantular mengubah kakawi Sutasoma, Sutasoma salah satu judul Kotbah Buddha Gautama di kitab Suci tetapi dutulis baru oleh Empu Tantular di daun lontar dan ubahannya terdapat kalimat Siwa Buddha Bhineka Tungal Ika. Tanhana Dharma Mangrwa. Karena dijaman awal Majapahit yang dikenal luas agama siwa atau agama Hindu dan agama Buddha. Disebut istilah siwa karena agama Hindu adalah agama yang diinisiasi oleh orientalis orang barat. Di India itu ada agama Brahma agama Siwa di Majapahit ada agama Siwa dan agama Buddha. Ada dua Menteri Agama yakni Menteri Agama Siwa dan Menteri Agama Buddha. Siwa Buddha Bhineka dari kata “Bina Ika” Bina itu berbeda beda Ika itu satu. Berbeda beda tapi satu itu arti Bhineka. Ditandaskan lagi tunggal ika tetapi juga tunggal ika berbeda beda tetapi satu tetap satu,” jelas Bhante.

Di akhir ulasannya Bhante menyampaikan ”Saya punya kewajiban moral untuk memberikan kontribusi yang baik, nilai-nilai yang baik kepada masyarakat yang mau mendengar yang mau belajar, memberikan sumbangsih pemikiran yang baik dengan menghargai perbedaan menerima perbedaan mencintai kehidupan, oleh karena itu mari kita peduli kepada yang lain semakin bahagia dengan pertemuan lintas agama pagi ini,” pungkasnya.

Sementara Staf Khusus Menteri Agama Abdul Kharis Ma’mun secara teknis mengulas tentang keberadaan Candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha Indonesia dan dunia sesui dengan temanya “Sosialisasi Candi Borobudur untuk Keagamaan”.

“Borobudur itu adalah candi terbesar yang didirikan oleh nenek moyang kita semua dan kebetulan bercorak Buddha atau yang mendirikan tokoh Buddha tetapi memang dibuat untuk ibadah Umat Buddha,” sambungnya.

Abdul Kharis menuturkan “Secara khusus dan marathon  kita kerja keras bagaimana  Borobudur dapat  dijadikan tempat ibadah umat Buddha pada perayaan Waisak, Asadha dan perayaan-perayaan keagamaa Buddha lainnya pada bulan purnama dan sebagainya dan itu belum punya tempat secara khusus bahwa Borobudur dijadikan tempat ibadah,” lanjutnya.

Ia berharap untuk areal Borobudur kedepan harus disediakan semacam joglo untuk menampung umat yang mau beribadah.

“Kalau itu umat Buddhis di AsiaTenggara berkunjung ke Borobudur dalam rangka ibadah, mereka kalau datang ke Borobudur belum ada tempat semedi khusus walaupun bukan bentuk vihara tapi tempat semacam joglo untuk mereka bisa datang bersemedi beribadah tempat ibadanya di situ jadi menatap kiblatnya ke Borobudur,” imbuhnya.

Koordinator Paguyuban Umat Beriman Kabupaten Magelang Chabibullah menyampaikan kita saling tepo seliro.

“Saya kira kegiatan ini kesempatan baik kemudian menjadikan lingkungan masyarakat menjadi sinergi dan saling menghargai, tepo seliro itu akan tercampur secara baik dimana komunikasi yang muncul persepsi dan asumsi persaingan pikir diskusi yang kita bangun pada hari ini ini benar diskusi-diskusi yang kaitannya dengan keragaman keyakinan umat beragama,” uangkapnya.

Terkait kebersanaan dan moderasi beragama menurutnya Chabibullah “Mau nggak mau kita sebagai masyarakat Indonesia dan masyarakat Jawa ataupun yang lainnya yang dalam hal ini, gen kita adalah gen moderasi, gen moderasi dari Majapahit, gen moderasi dari Sriwijaya, gen moderasi dari Mataram dan semua gen-gen itu ada pada diri kita. Dan Bagaimana moderasi beragama menumbuhkan kebersamaan dan kesamaan di antara kita, dan sesuai dengan realitas moderasi yang kemudian kita hadir bersama dalam hal-hal kebersamaan walaupun ada realitas perbedaan-perbedaan dalam sistem dan pola peribadatan, saya kira prioritas dasar masyarakat yang punya gen itu tidak masalah.

Apresiasi disampaikan oleh perwakilan Furum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Magelang Fathan menyampikan kegiatan ini bisa mengumpulkan pemuda-pemuda dari lintas agama.

“Kami mengapresiasi luar biasa kegiatan ini, dimana bisa mengumpulkan pemuda-pemuda dari lintas agama, tidak hanya dari pemuda Islam, tetapi juga pemuda Katolik, pemuda Kristen, pemuda Hindu dan pemuda Buddha. Ini sebagai media untuk silaturohim untuk saling mengenal dan akan saling memahami dan akhirnya akan saling tolong menolong,”jelasnya.

Terkait Menteri Agama menjadikan Candi Borobudur sebagai pusat ibadah umat Buddha Indonesia dan dunia ini tepat sekali karena idealnya harus merangkul semua agama, semua unsur di Kabupaten Magelang yang dalam hal ini pemuda.

Fathan mengharapkan agar semua pemangku kebijakan dan steakholder dalam rangka untuk melaksanakan program Menteri Agama tersebut supaya jangan meninggalkan kearifan lokal, masyarakat untuk diperdayakan, biar masyarakat punya rasa memiliki terhadap Borobudur dan masyarakat kalua bisa jangan dijadikan obyek tetapi jadikannlah mereka sobyek.

Untuk mewujudkan kebersamaan sebagai, ungkapan talikasih dan ucapkan terima kasih, panitia penyelenggara disaksikan oleh pejabat yang hadir membagikan sarana peribadatan berupa sajadah bagi saudara muslim.  


Sumber
:
Humas Buddha
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait