Jakarta (Bimas Buddha) - Wakil Menteri Agama RI menegaskan pentingnya persatuan sebagai kunci perjuangan bangsa. Amanat tersebut disampaikannya pada Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026 di Kantor Kementerian Agama, Rabu (28/10/2026).
"Tanpa persatuan, akan sulit menyertai perjuangan kita. Semangat pemuda yang mengesampingkan perbedaan etnis, suku, bangsa, dan bahkan agama mereka, dengan semua perbedaan mereka bersatu menjadi satu wujud yaitu bangsa Indonesia. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meskipun kita berbeda kita punya perjuangan yang sama dan kita adalah satu bangsa,” tegas Wamenag Romo Syafi'i.
Dalam amanatnya, Wamenag mengingatkan bahwa rasa kebangsaan harus diwujudkan dalam pengabdian nyata, bukan seremonial.
.jpeg)
"Kalau perasaan kebangsaan itu ada, maka sumpah pemuda masih hidup dalam diri kita. Bila tidak, maka semangat itu hanya dipakai untuk kepentingan diri dan keluarga. Itu adalah pengkhianatan terhadap sumpah," ujarnya.
Wamen juga menekankan generasi muda harus memiliki tujuan bersama, yakni kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa.
"Tugas kita adalah mengabdikan kemampuan sesuai amanah untuk kepentingan bangsa dan negara,” tambahnya.
Bersama segenap ASN di lingkungan Kemenag, pegawai Ditjen Bimas Buddha turut berpartisipasi dalam khidmatnya upacara bendera. Hal tersebut menegaskan peran Kementerian Agama dalam memupuk nilai kebangsaan di era saat ini. Kehadiran aktif ASN Bimas Buddha menunjukkan komitmen institusi untuk terus menanamkan keteladanan, integritas, dan persatuan di tengah masyarakat.
.jpeg)
Momentum Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026 dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” ini diharapkan tidak hanya menjadi peringatan seremonial, melainkan menjadi panggilan bagi seluruh ASN untuk meneruskan nilai persatuan, pengorbanan, dan pengabdian demi masa depan Indonesia.
Penulis: Vividha Jati Ariya Gotami
Foto: Ananta