Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Pelepasan Lampion di Candi Borobudur sebagai Simbol Doa dan Harapan Umat Buddha

Senin, 01 Juni 2026
Kategori : Berita

Magelang (Bimas Buddha) ----- Bertepatan dengan perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E./2026, Candi Borobudur kembali menjadi saksi indahnya pelepasan ribuan lampion pada Minggu malam (31/5/2026). Umat Buddha dari berbagai daerah berkumpul dalam suasana khidmat dan penuh makna, menjadikan momen tersebut sebagai simbol harapan, kedamaian, dan kebijaksanaan dalam perayaan Waisak.

Acara ini semakin khidmat dengan hadirnya Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka, Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar, sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) S. Hartati Murdaya, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi serta sejumlah pejabat kementerian lembaga dan tokoh umat Buddha lainnya.

Sebelum memulai prosesi pelepasan ribuan lampion, Wapres beserta para tamu terhormat menyalakan lentera perdamaian dengan penuh harapan dan doa untuk perdamaian Indonesia dan dunia. Setelah itu ribuan lampion dipersiapkan untuk diterbangkan.

Langit di atas Candi Borobudur tampak memukau, dihiasi ribuan lampion yang perlahan terbang membentuk lautan cahaya. Cahaya lampion yang menerangi malam menciptakan suasana indah, syahdu, dan penuh makna. Bagi umat Buddha, pelepasan lampion bukan hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menjadi simbol harapan, doa, dan cita-cita yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan.

Doa dan meditasi dipimpin oleh seorang Bhante yang memandu umat dengan suara lembut dan mendalam. Dalam keheningan malam, suara Bhante menggema, menyerukan kedamaian tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga bagi seluruh umat manusia di berbagai penjuru dunia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi, serta sejumlah pejabat lainnya turut hadir dalam acara pelepasan ribuan lampion di kawasan Candi Borobudur.

Dalam penerbangan lampion, setiap umat menyelipkan doa dan harapan yang tulus, baik untuk diri sendiri, sesama, maupun dunia. Dalam suasana hening dan sakral, Candi Borobudur seakan menjadi titik pusat pancaran energi positif yang menjangkau seluruh bumi, membawa pesan kedamaian, cinta kasih, dan kebajikan bagi seluruh kehidupan.

Salah satu Bhante pemimpin doa menyampaikan bahwa pada malam ini menyalakan lentera perdamaian dan berdoa untuk perdamaian dunia, umat diajak untuk menenangkan pikiran dan mengheningkan pikiran setelah itu mengucapkan Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Lantunan doa ini bukan hanya seruan spiritual, namun juga pesan kepada kita untuk selalu ingat pada nilai-nilai cinta kasih dan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi harapan akan hadirnya kedamaian untuk kita semua. Ibarat lampion yang terbang semakin jauh dan tampak semakin kecil, cahayanya tetap menyala, membawa doa dan harapan yang tulus ke luasnya langit malam.

Rangkaian perayaan ini tidak semata menjadi ritual tahunan, tetapi juga refleksi spiritual yang mendalam. Perayaan Waisak di Borobudur mengingatkan bahwa dalam ketenangan dan kebersamaan, manusia dapat menyatu dalam harapan dan kedamaian.

Pelepasan lampion saat perayaan Waisak bukan sekadar rangkaian ritual yang dilakukan setiap tahun, melainkan juga menjadi momen untuk merenung dan memperdalam nilai-nilai spiritual. Waisak di Borobudur menghadirkan pesan bahwa melalui ketenangan batin, kebersamaan, dan ketulusan hati, manusia dapat memancarkan harapan serta kedamaian bagi semua makhluk.


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
Budiyono
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait