Magelang (Bimas Buddha) — Lebih dari 2.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara mengikuti Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2570 B.E./2026 di Taman Lumbini, kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 24-26 Juli 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) bekerja sama dengan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI), kegiatan ini diikuti para Bhikkhu dari mancanegara, samanera, atthasilani, serta upasaka-upasika yang menjalankan Atthasila.
Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi, mengatakan nilai-nilai dalam Tipitaka memiliki relevansi yang melampaui ruang dan waktu. “Ketika kita bersama-sama melantunkan, membacakan sutta-sutta suci itu maka yang kita harapkan adalah tumbuhnya sebuah kesadaran bahwa di dalam dunia kita ada sebuah upaya membangun monumen hidup agar apa yang kita bacakan, apa yang kita suarakan itu mampu menyuarakan vibrasi kedamaian dalam kehidupan kita maupun dalam menjawab suasana kegelisahan di mana setiap masyarakat merasakannya” ujar Supriyadi saat membuka ITC 2026, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, pembacaan kitab suci perlu diikuti dengan upaya menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata. Karena itu, kegiatan keagamaan juga dapat berkontribusi dalam membangun karakter, memperkuat kepedulian, dan menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Pembangunan fisik yang nampak secara nyata di depan mata kita tentu akan rapuh kalau tidak ditopang dengan karakter yang sangat baik. Saya percaya bahwa melalui Indonesia Tipitaka Chanting ini adalah sebagai upaya untuk memberikan dan membangun jati diri umat Buddha Indonesia,” tuturnya.
Supriyadi juga menekankan bahwa kehidupan spiritual dan kehidupan bernegara tidak semestinya dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya dapat saling menguatkan melalui praktik nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata.
“Kita semua menyadari sebagai umat beragama dan sebagai warga negara memiliki sebuah mandat yang sangat luhur yang harus kita jalankan agar kita bisa menjadi umat yang betul-betul taat menjalankan agamanya dan sekaligus juga menjadi warga negara yang cinta tanah air dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Ia mengajak umat Buddha untuk memaknai praktik katannu-katavedi rasa tahu berterima kasih dan membalas jasa dalam konteks pengabdian kepada bangsa dan negara. Nilai luhur ini ditegaskan sebagai bagian dari praktik Dharma yang diyakini, sehingga setiap pengabdian yang dilakukan akan menghadirkan manfaat sekaligus menumbuhkan buah kebajikan bagi diri sendiri dan masyarakat luas.
Dirjen menambahkan bahwa pemahaman agama yang mendalam semestinya menumbuhkan kasih sayang dan penghormatan kepada mereka yang berbeda. “Semakin dalam seseorang memahami agamanya, maka sesungguhnya mereka akan semakin luas mempunyai rasa kasih sayang dan rasa hormat kepada mereka yang berbeda,” ujarnya.
Penyelenggaraan Indonesia Tipitaka Chanting 2026 menjadi semakin istimewa karena berlangsung dalam momentum Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia. Perjalanan 50 tahun tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang kontribusi STI dalam membimbing umat Buddha serta menjaga dan mengembangkan Buddha Dhamma di Indonesia.
Lebih dari kegiatan keagamaan, ITC menghadirkan pesan universal tentang kedamaian, pengendalian diri, penguatan karakter, kasih sayang, dan penghormatan terhadap perbedaan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memberikan manfaat bagi diri sendiri, sesama, masyarakat, dan bangsa.
Ketua Panitia Kegiatan, Bhante Guttadhammo Mahathera, menyebut bahwa peserta Indonesia Tipitaka Chanting tahun ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta dari luar negeri, seperti Singapura dan Australia. Pada kesempatan pembacaan tahun ini, para peserta melanjutkan pembacaan Majjhima Nikaya, sebagaimana pada penyelenggaraan sebelumnya, dengan membacakan 10 sutta.
Ia berharap, melalui pengucapan Tipitaka setiap peserta dapat merenungkan makna ajaran yang dibacakan. Hasil perenungan tersebut dapat menjadi patoklan untuk mengubah cara pandang demi mengikis dan melenyapkan pengotor batin kita masing-masing.
Narasi: Dwiyana Mettasari
Dokumentasi: Charlie Ariya Bodhi Sutrisno