Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Mengenal Candi Pawon yang Menghubungkan Borobudur dan Mendut

Kamis, 23 Juli 2026
Kategori : Berita

Jakarta (Bimas Buddha) - Candi Pawon yang terletak di antara Candi Borobudur dan Candi Mendut, diyakini memiliki peran penting dalam rute perjalanan suci (pilgrimage) umat Buddha.

Candi ini ditemukan kembali pada abad ke-19 dalam kondisi rusak dan mulai dipugar pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pemugaran besar dilakukan sejak 1897–1904, kemudian dilanjutkan oleh Van Erp pada 1908. Hasil restorasi menunjukkan bahwa saat ini sekitar 70% material candi adalah asli, sementara sisanya telah direkonstruksi untuk menjaga kelestariannya.

Ahli epigrafi J.G. de Casparis menafsirkan kata "pawon" berasal dari bahasa Jawa "awu" (abu) yang diberi awalan dan akhiran sehingga bermakna tempat abu atau perabuan menguatkan dugaan fungsi candi sebagai tempat penyimpanan abu. Candi Pawon diduga menjadi tempat penyimpanan abu Raja Indra (masa pemerintahan 782–812 M), ayah Raja Samaratungga  dari Dinasti Syailendra. Pendapat lain, Prof. Dr. R.M. Poerbatjaraka, menyatakan bahwa Pawon adalah “upa angga” atau bagian dari kompleks Borobudur, menyerupai fungsi pawon (dapur) dalam rumah.

Secara arsitektural, Candi Pawon terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap. Kaki candi berupa batu setinggi sekitar 1,5 meter dihiasi ornamen bunga dan sulur, tubuh candi memuat arca-arca Bodhisattva, sedangkan atapnya dihiasi stupa-stupa kecil. Relief dan motif pahatan pada dindingnya memiliki kemiripan dengan Borobudur dan Mendut, memperkuat keterkaitan ketiga candi terlebih karena letaknya yang membentuk garis lurus antara Borobudur, Pawon, dan Mendut.

Candi Pawon diyakini menjadi tempat penyucian bagi para peziarah sebelum memasuki Borobudur, tempat untuk  membersihkan badan dan pikiran dari kotoran batin. Keunikan arsitektur dan perannya, menjadikan Candi Pawon sebagai titik penting dalam rute ziarah yang sering dikunjungi umat Buddha dan wisatawan yang mencari ketenangan.

Upaya konservasi terus dilakukan guna menjaga kelestarian candi, sehingga warisan budaya dan sejarahnya dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

Kontributor: Vividha Jati Ariya Gotami


Sumber
:
Tim Humas
Penulis
:
A Wardiyanto
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait