Riau (Bimas Buddha) ----- Di tengah keterbatasan fasilitas dan akses pendidikan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di Provinsi Riau, siswa-siswi yang beragama Buddha mendambakan kehadiran guru sebagai cahaya dalam pendidikan keagamaan.
Sehingga kehadiran guru menjadi harapan besar bagi para siswa untuk mendapatkan bimbingan spiritual, penguatan moral, serta pemahaman nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Adalah sosok Ngasrikan, guru Agama Buddha Non PNS yang lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2009, yang mengabdikan dirinya untuk menyalakan semangat belajar bagi anak-anak Buddhis di daerah terpencil. Dengan penuh dedikasi, ia rela menempuh perjalanan beberapa kilometer untuk sampai ke sekolah demi memberikan pembelajaran agama kepada para siswa.
Dirinya menuturkan bahwa perjuangan menuju sekolah tidaklah mudah, karena ia harus menempuh jarak yang cukup jauh kurang lebih 20 km dengan waktu perjalanan yang tidak singkat demi dapat mengajar siswa-siswi yang beragama Buddha di wilayah tersebut.

“Saya setiap hari Senin sampai Jum’at ngajar Pendidikan Agama Buddha di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Patria Dharha dan hari Sabtu mengajar di SD-SMA/K Negeri yang dipusatkan di Sekolah Minggu Buddha Vidya Pura Cemaning dengan jumlah 45 siswa, selanjutnya pada hari Minggu saya mengajar siswa/siswi SD N 10 Lukun dan SMP Negeri 4 Suak Tebing Tinggi Timur yang dipusatkan di Sekolah Minggu Buddha Vidya Sasana Batin Suir yang saat ini masih menumpang di Balai Pertemuan Sosial desa Batin Suir dengan jumlah siswa 32, jelasnya pada Kamis (27/3/2026).
Ia juga menyampaikan bahwa selama ini dirinya telah menerima tunjangan sertifikasi Guru Agama Buddha dari Ditjen Bimas Buddha, yang sangat membantu dalam mendukung tugas dan pengabdiannya sebagai pendidik di daerah terpencil. Menurutnya, tunjangan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru sekaligus memberikan motivasi untuk terus memberikan pelayanan pendidikan agama Buddha secara maksimal kepada para siswa di wilayah tersebut.
Pengabdian Ngasrikan di daerah 3T menjadi contoh nyata bahwa pendidikan agama tidak hanya tentang mengajar di kelas, tetapi juga tentang pelayanan dan ketulusan hati. Dengan semangat pengabdian tersebut, ia terus berupaya menjaga agar cahaya Dhamma tetap bersinar di tengah keterbatasan.
Dedikasinya diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut mendukung pendidikan, khususnya pendidikan agama Buddha, di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Melalui kerja keras para guru seperti dirinya, harapan akan generasi yang berkarakter dan berlandaskan nilai kebajikan dapat terus tumbuh.