Top
    bimasbuddha@kemenag.go.id
+62 811-1001-1809

Dukung Eco-Theology, STABN Raden Wijaya Olah Limbah Plastik Jadi Energi

Jumat, 26 Juni 2026
Kategori : Berita

Wonogiri (Bimas Buddha) — Berawal dari tumpukan sampah di asrama mahasiswa, STAB Negeri Raden Wijaya Wonogiri mengembangkan pengelolaan limbah plastik menjadi energi alternatif melalui teknologi pirolisis. Inisiatif yang digagas Ketua STAB Negeri Raden Wijaya, Sulaiman, tersebut diwujudkan melalui pelatihan pengolahan sampah plastik bekerja sama dengan Yayasan Get Plastic pada 24–30 Juni 2026 di Eco-Theology Liing Laboratory Dharma Ekologi.

Menurut Sulaiman, gagasan tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap persoalan sampah yang terus bertambah di lingkungan kampus. "Banyak sampah menumpuk di asrama. Dari keresahan itu kami berpikir bahwa sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tetapi harus menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Melalui kolaborasi dengan Yayasan Get Plastic, STAB Negeri Raden Wijaya menunjukkan bahwa limbah plastik yang selama ini dipandang tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi energi alternatif. Teknologi pirolisis yang diterapkan mampu mengubah plastik bernilai jual rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) tanpa melalui proses pembakaran terbuka sehingga lebih ramah lingkungan.

Pelatih dari Yayasan Get Plastic, Ine, menjelaskan bahwa kualitas hasil pirolisis sangat ditentukan oleh kualitas dan kondisi bahan baku. Plastik yang diolah harus dalam keadaan bersih dan kering agar menghasilkan bahan bakar dengan kualitas yang optimal.  "Mesin pirolisis yang dimiliki STAB Negeri Raden Wijaya saat ini mampu mengolah sekitar lima kilogram sampah plastik dalam satu kali proses. Dengan waktu pengolahan sekitar tiga jam, mesin dapat menghasilkan kurang lebih lima liter BBM," jelasnya.

Ia menambahkan, efisiensi konversi energi juga dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan. Yayasan Get Plastic merekomendasikan plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE), Low-Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS). Di antara jenis tersebut, plastik PP, seperti gelas air mineral dan botol infus, menghasilkan kualitas bahan bakar paling baik. Adapun plastik jenis PET dan PVC tidak dianjurkan karena kandungan klorinnya dapat mengganggu proses pirolisis serta berpotensi merusak mesin.

Menurutnya, langkah STAB Negeri Raden Wijaya merupakan wujud nyata pengelolaan lingkungan yang tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi telah menghasilkan aksi yang berdampak.

"Kami, Pemerintah Daerah dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wonogiri menyampaikan apresiasi. Apa yang dilakukan STAB Negeri Raden Wijaya bukan hanya sebatas wacana, tetapi telah diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan dampak terhadap pengembangan ekonomi sirkular," ujarnya saat membuka pelatihan pada 24 Juni 2026.

Pelatihan ini tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi energi, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan Eco-Theology Liing Laboratory Dharma Ekologi sebagai pusat pembelajaran daur ulang limbah.  Program tersebut diarahkan sebagai Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa, sarana pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari hulu atau rumah tangga, serta upaya menciptakan peluang ekonomi sirkular yang hasilnya dapat mendukung berbagai kegiatan sosial.

Melalui kolaborasi ini, STAB Negeri Raden Wijaya berharap kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah semakin meningkat. Dengan demikian, limbah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan dapat diolah menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung terwujudnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Kontributor: Vikka Setiawati Anatha Pindika


Sumber
:
Humas STABN Raden Wijaya
Penulis
:
Vikka Setiawati AP
Editor
:
Budiyono

Berita Terkait