Tangerang (Bimas Buddha) — Kebudayaan dan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberagaman Indonesia. Pelestarian tradisi tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan dan mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Semangat tersebut tercermin dalam pelaksanaan Kirab Budaya dan Ruwat Bumi 2026 di Kota Tangerang, Banten, Minggu (27/9/2026). Kegiatan digelar dalam rangka memperingati Sejit Yang Mulia Suci Kongco Tjie Thien Ta Sen sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-43 Tjie Thien Ta Sen Bio.
Sejumlah unsur pemerintah, aparat keamanan, anggota legislatif, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pegiat budaya turut meramaikan kegiatan tersebut. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, turut hadir dan memberikan sambutan sekaligus penguatan mengenai pentingnya menjaga kebersamaan dan keberagaman.
Supriyadi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Kirab Budaya dan Ruwat Bumi sekaligus peringatan HUT ke-43 Tjie Thien Ta Sen Bio. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk merawat tradisi, tetapi juga memperkuat hubungan dan silaturahmi antarmasyarakat.

“Kita semua berada di sini tentu dalam rangka untuk memperkuat hubungan, kekerabatan, silaturahmi antar kita,” ujar Supriyadi.
Ia mengatakan, keberagaman agama dan adat istiadat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang perlu dijaga bersama. Perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Semoga kirab budaya ini semakin memperkuat hubungan kita, terlepas dari berbagai keyakinan, terlepas dari berbagai adat istiadat, dan semua itu menjadi kekuatan untuk kita menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai,” katanya.
Supriyadi juga menyampaikan ucapan selamat atas HUT ke-43 Tjie Thien Ta Sen Bio. Ia berharap tempat ibadah tersebut terus memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan yang harmonis.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin Suhu Benny Susanto, selaku pemimpin spiritual sekaligus pendiri Tjie Thien Ta Sen Bio. Dalam doanya, Suhu Benny berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar serta membawa keselamatan, kesehatan, kemakmuran, dan keberkahan bagi masyarakat.
Suhu Benny juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebudayaan dan kehidupan keagamaan.
“Semoga kita bersama-sama dapat terus mengembangkan kebudayaan karena keagamaan dan kebudayaan harus bisa saling mengimbangi,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Herbin Sianipar menyampaikan ucapan selamat atas HUT ke-43 Tjie Thien Ta Sen Bio. Ia berharap Kirab Budaya dan Ruwat Bumi dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar serta membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi masyarakat.
“Selamat melaksanakan kirab budaya dan ruwat bumi. Tentu kita berharap bahwa kegiatan ini bisa membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi kita semua,” ujar Herbin.
Dandim 0506/Tangerang Letkol Inf Moh Alharidz Unus turut mengapresiasi pelaksanaan kirab yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat selama puluhan tahun. Ia berharap tradisi tersebut dapat terus dijaga dan dilestarikan, sekaligus menarik masyarakat dari daerah lain untuk mengenal berbagai tradisi budaya yang ada di Kota Tangerang.
“Dengan adanya kirab ini dapat menambah budaya-budaya yang sudah dilestarikan tetap kita jaga sama-sama dan juga menarik masyarakat-masyarakat lain ataupun dari kota-kota lain untuk datang ke Kota Tangerang untuk menyaksikan kirab-kirab yang sudah dilaksanakan,” ujarnya.
Pembukaan Kirab Budaya dan Ruwat Bumi ditandai dengan pemukulan tambur secara simbolis oleh Dirjen Bimas Buddha, unsur pemerintah daerah, anggota legislatif, aparat keamanan, serta Suhu Benny Susanto.
Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya Kirab Budaya dan Ruwat Bumi 2026. Kegiatan ini memperlihatkan perjumpaan antara tradisi keagamaan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat dalam ruang kebersamaan.
Ditjen Bimas Buddha memandang pelestarian tradisi dan budaya sebagai bagian dari upaya merawat keberagaman serta memperkuat kehidupan masyarakat yang harmonis. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan nilai kebersamaan, penghormatan terhadap keberagaman, dan kehidupan keagamaan yang harmonis dapat terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Sumber: Media Pers