Denpasar (Bimas Buddha) — Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA) menandai perjalanan pengabdiannya selama tiga dekade melalui perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 yang diselenggarakan di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Bali, Minggu (22/2/2026). Momentum ini menjadi ajang refleksi sekaligus penguatan komitmen pemuda Buddhis untuk terus berkontribusi dalam pembangunan umat, masyarakat, dan bangsa.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menyampaikan apresiasi atas peran strategis PATRIA dalam membangun generasi muda Buddhis yang berkualitas. Dirinya menegaskan, selama 30 tahun PATRIA telah menunjukkan karya bakti yang nyata dan memberikan kontribusi bagi perkembangan agama Buddha, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Mengusung tema “Abhikkama – Maju Terus,” Supriyadi menegaskan bahwa semangat maju harus diwujudkan melalui langkah yang terarah dan berdampak nyata. Menurutnya, pemuda memiliki peran penting dalam memperkuat kualitas kepemimpinan, terlebih masih terdapat ruang peningkatan dalam indikator partisipasi dan kepemimpinan pemuda secara nasional.
“Kami berharap PATRIA harus berani mengambil peran strategis dan semakin menunjukkan kontribusinya. PATRIA harus menjadi laboratorium kepemimpinan untuk mengembangkan dhamma, sehingga anggota PATRIA akan semakin tangguh secara mental, tidak mudah terpolarisasi dan mampu menjadi perekat bagi ketahanan nasional,” ujar Supriyadi.
Lebih lanjut, Supriyadi juga mengajak seluruh kader PATRIA untuk menjadi pelopor gerakan ekoteologi atau eko-dharma, yaitu kesadaran spiritual untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari praktik kehidupan beragama.
“Mari kita sadari prinsip untuk saling bergantungan, bahwa menjaga alam semesta adalah bagian dari praktik spiritualitas kita. Jadilah pelopor dari gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah). Janganlah kita biarkan kemajuan menggerus kepedulian ekoteologis kita. Biarkan setiap langkah Abhikkama PATRIA menjadi napas kehidupan untuk berbakti pada bumi pertiwi,” pesannya.
Pesan mendalam juga disampaikan oleh Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera yang menegaskan pentingnya pemahaman terhadap hukum karma sebagai landasan kehidupan.
Bhante juga menekankan bahwa di usia ke-30, PATRIA diharapkan tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga pelopor perubahan yang membawa manfaat bagi banyak pihak.
“PATRIA harus menjadi pelopor, mempengaruhi masyarakat bukan untuk menjadikan mereka umat Buddha, tetapi mempengaruhi mereka untuk takut berbuat jahat. Karena kejahatan itu menghancurkan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ini,” pesan Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera.
Perayaan HUT ke-30 ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Semangat Abhikkama yang digaungkan bukan sekadar slogan, melainkan panggilan untuk terus melangkah dengan keberanian, kebijaksanaan, dan ketulusan. Ketika pemuda memilih berjalan di jalan kebajikan, mereka tidak hanya membangun dirinya sendiri, tetapi juga sedang menata masa depan bangsa dan menjaga kehidupan di bumi pertiwi.
Kontributor: Dwiyana Mettasari, Friska Frilisia