Jakarta (Bimas Buddha) — Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menerima kunjungan jajaran pimpinan Sangha Theravada Indonesia (STI) di Jakarta, pada Kamis (2/4/2026). Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mempererat sinergi antara pemerintah dan Sangha. Pertemuan tersebut sekaligus membahas rangkaian peringatan Setengah Abad Sangha TheravadaIndonesia yang akan digelar pada penghujung tahun 2026.
Hadir dalam kesempatan tersebut Sanghapamokkha Sangha Theravada Indonesia, YM. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera, Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia YM. Bhikkhu Sri Subhapañño Mahathera, serta Ketua Panitia Perayaan Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia, YM. Bhikkhu Atthadhiro Thera. Pertemuan berlangsung hangat dan penuh makna, mencerminkan komitmen bersama dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis dan berlandaskan nilai-nilai Dhamma.
Usai pertemuan, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Ditjen Bimas Buddha berkesempatan menerima pesan Dhamma dari YM. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera, yang dilanjutkan dengan pemercikan tirta paritta sebagai simbol berkah dan perlindungan.
Dalam pesan Dhamma-nya, YM. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera menekankan pentingnya menghadirkan kesadaran (sati) dalam setiap aktivitas kehidupan, termasuk dalam bekerja. Beliau menyampaikan bahwa pekerjaan tidak seharusnya dipandang semata sebagai kewajiban, melainkan dapat menjadi ladang kebajikan sekaligus sarana latihan batin.
“Jika kita bekerja dengan kesadaran, kita tidak bekerja semata-mata menjalani kewajiban, tetapi pekerjaan itu bisa menjadi kebajikan dan latihan dalam diri kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita menghadirkan kesadaran, maka kita tidak akan dipengaruhi dengan keserakahan, kebencian, kesombongan, keakuan, dan lain-lain yang menjadi kotoran-kotoran mental,” ungkapnya.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa kebahagiaan tidak semata ditentukan oleh kelimpahan materi, melainkan oleh kondisi batin yang bersih dan terjaga. Menurutnya, kesehatan fisik memang penting, namun kesehatan mental dan kejernihan pikiran memiliki peran yang jauh lebih mendasar dalam menciptakan kehidupan yang damai dan seimbang.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh ASN Ditjen Bimas Buddha, sekaligus masyarakat luas, bahwa nilai-nilai spiritual seperti kesadaran, pengendalian diri, dan kebersihan batin sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
Melalui kesempatan ini, Ditjen Bimas Buddha berharap semangat Dhamma yang disampaikan dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi internal ASN, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk menjalani kehidupan yang lebih bijaksana, harmonis, dan berorientasi pada kebahagiaan sejati.
Kontributor: Dwiyana Mettasari