Page 47 - Demo
P. 47
Buku SiswaPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas V 28Awalnya Wirya terganggu. Ia hampir kesal karena sedang mencoba memahami soal Matematika. Tapi kemudian ia menarik napas panjang dan mengingat pesan gurunya.Pesannya, %u201cKalau ada gangguan, jangan marah. Hadapi dengan tenang. Seperti air yang jernih, tidak mudah keruh.%u201d Wirya pun tersenyum. Ia mendekati adiknya dan berkata dengan lembut, %u201cWina, Mas masih belajar sebentar lagi, ya. Nanti kalau sudah selesai, Mas janji mau main sama Wina.%u201d Wina mengangguk. Ia keluar kamar dan bermain boneka sendiri. Wirya kembali belajar dengan tenang. Setelah selesai belajar, ia pun menepati janjinya. Ia bermain bersama Wina sambil tertawa-tawa. Ayah yang melihat itu berkata, %u201cKamu hebat, Wirya. Belajar dengan tekun, tapi tetap sabar dan sayang pada adik. Itu namanya belajar dengan hati yang tenang.%u201dWirya merasa senang. Ia belajar bahwa ketenangan hati lebih penting daripada marah, dan dengan sikap itu, ia bisa menyelesaikan belajar dan menjaga hubungan baik dengan adiknya.A. Mari bermain Kuis %u201cBenar atau Salah%u201dGuru membacakan pernyataan. Siswa menunjukkan jawaban dengan:Cara Bermain :Angkat tangan kanan = BenarAngkat tangan kiri = SalahContoh Pertanyaan:1. Wirya langsung marah ketika diganggu adiknya. 2. Wirya menepati janji bermain setelah selesai belajar. 3. Guru Wirya mengajarkan untuk tenang saat ada gangguan. 4. Wirya memilih pergi keluar rumah agar tidak diganggu. 5. Wirya belajar dengan hati yang tenang. 6. Adiknya mengajak bermain bola.Gambar 1.17 Anak Mengangkat Tangan Sumber: Dokumen Ditjen Bimas Buddha, 2025Ayo Lakukan

